JESSICA WUYSANG DARI ANTARA KALBAR RAIH ADINEGORO<!--:-->

Jessica Wuysang, pewarta foto Biro Kalimantan Barat, Perum LKBN ANTARA boleh berbangga hati. Fotonya berjudul “Evakuasi Orang Utan” berhasil memikat penilaian Dewan Juri Anugerah Adinegoro dan mampu mengalahkan ratusan foto yang masuk. Jessica menerima penghargaan tertinggi di bidang jurnalistik foto itu dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Manado, Sulawesi Utara, 11 Februari 2013, di hadapan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, tokoh-tokoh pers nasional, wartawan senior dan para pemilik media. Foto berita Jessica Wuysang yang menggambarkan tubuh orangutan terbakar itu merupakan sederet hasil karyanya sepanjang tahun 2012 dan pernah dimuat di Portal Berita Antara Foto pada 27 Agustus 2012.
jessica_wusyang.jpgKiky–nama panggilan Jessica Wuysang-- berhasil mengalahkan 190 karya foto jurnalistik lainnya. Di dalam foto itu ditampilkan dengan jelas gambar seekor orang utan yang mengalami kulit melepuh karena luka bakar pada sekujur tubuhnya, terkapar di atas tanah sambil menutup wajah, dikerumuni banyak manusia dengan pelbagai arti tatapan.
Orang utan itu mengalami luka bakar karena warga sekitar berusaha mengusirnya dengan cara membakar pohon yang menjadi hunian satwa yang dilindungi tersebut. Ditengah isu tentang kekerasan terhadap orang utan yang memang sedang berkembang, foto Jessica seolah memberikan penegasan bahwa salah satu satwa langka Indonesia itu seharusnya dilindungi dan mendapat perlakukan lebih layak.
Jessica Wusyang Jessica memulai karirnya sebagai fotografer freelance. Tahun 2007 Kiky mulai bekerja sebagai sebagai pewarta foto sebuah media lokal di Pontianak, Kalimantan Barat. Kemudian mulai bergabung di ANTARA Biro Kalbar pada tahun 2008. Pengalaman memotret banjir di pusat kota Pontianak pada November 2008 menjadi pengalaman paling berkesan bagi Kiky. Saat itu dirinya terperosok dalam saluran air dan tenggelam sampai akhirnya ditolong oleh seorang pejalan kaki. Di peristiwa yang sama, Kiky juga menjadi saksi mata bagaimana seorang anak korban banjir meregang nyawa dan akhirnya meninggal. Baginya menjadi pewarta foto adalah jalan yang diberikan Tuhan untuknya. Afriadi Hikmal, pewarta foto di The Jakarta Globe dianggap Kiky sebagai mentor yang tidak pernah bosan mengajarkanya memotret. Anugerah Adinegoro Dewan Juri yang terdiri dari Firman Ichsan (Pimpinan Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta), Oscar Motuloh (Kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara), dan Enny Nuraheni (Reuters), memberikan nilai 271 kepada foto Orangutan Terbakar. Salah satu juri yang juga wartawan foto senior ANTARA Oscar Motuloh menyebut bahwa foto jurnalistik adalah bentuk kesaksian untuk disampaikan pada orang lain. Fungsi foto jurnalistik sebagai sarana dan bukan sebagai tujuan akhir. Fotografi sudah berhasil menjadi gerbang untuk suatu pengamatan yang lebih dalam tidak sekedar sebagai sebuah gambar. Dengan angle (sudut pandang) yang sederhana tetapi kekuatan konten itu sendiri bisa mencuat di dalamnya. Sedangkan, Firman menilai karya Jessica mempunyai komposisi yang mendekatkan obyek foto karena memperlihatkan manusia selalu mendahulukan kepentingannya dan mengabaikan pihak yang lemah. Sementara Enny Nuraheni menyatakan foto Jessica menegaskan telah terjadi 'pembersihan' hutan yang dapat mengancam kerusakan alam seperti banjir, kerusakan tanah, dan untuk kepentingan bisnis semata. Selain foto "Evakuasi Orangutan Terbakar", terdapat lima karya foto yang juga menjadi pilihan juri yaitu foto "Kemenpera Beri Santuan Warga Korban Bentrokan Lampung" oleh Dwi Narwoko (Merdeka.Com), "Evakuasi Korban" oleh Irsan Mulyadi (ANTARA FOTO), kemudian foto "Menopang di Benen" oleh Andri Mardiansyah (Padang-Today.Com), "Bentrok Demo BBM" oleh Dhoni Setiawan (LKBN ANTARA), dan "Antre Makan" oleh Dadang Kusuma Wira Saputra (Koran Jakarta). Setiap pemenang Anugerah Adinegoro 2013 mendapat hadiah uang sebesar Rp50 juta dan trofi yang diserahkan di puncak peringatan Hari Pers Nasional 2013, 11 Februari 2013 di Manado. Anugerah Jurnalistik Adinegoro diberikan setiap tahun oleh PWI dalam rangka penyelenggaraan Hari Pers Nasional. Nama Anugerah Adinegoro mengabadikan nama tokoh pers nasional Djamaludin Adinegoro (14 Agustus 1904 – 8 Januari 1967). Adinegoro semasa muda mengenyam pendidikan jurnalistik di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda), kemudian kembali ke Tanah Air pada tahun1931 serta menjadi Pemimpin Redaksi Pandji Poestaka dan kemudian Pemimpin Redaksi Pewarta Deli. Pada tahun 1951 Adinegoro ikut berperan dalam pengambilalihan pimpinan bekas kantor berita Belanda (Aneta), yang kemudian diubah menjadi Pers Biro Indonesia-Aneta (PIA). Presiden Soekarno pada 1962 menyatukan Kantor Berita ANTARA dan PIA menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA, dan Adinegoro hingga akhir hayatnya bekerja di lembaga

Kategori Prestasi