Ekonomi Lebih Baik, Bahana TCW Optimistis Memperbesar Jumlah Investor Retail

JAKARTA - PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) optimistis perkembangan industri reksa dana pada tahun 2018 akan lebih semarak dibandingkan tahun 2017. Salah satu faktor pendukungnya, antusiasnya investor retail mengenai produk investasi, terutama di reksa dana.


Presiden Direktur Bahana TCW, Edward Lubis mengatakan, pemahaman investor retail terhadap produk reksa dana jauh lebih baik dan tingkat optimis investor untuk berinvestasi juga lebih tinggi. Bunga deposito perbankan yang semakin turun membuat perpindahan dana simpanan di perbankan ke produk investasi lain yang bisa memberikan imbal hasil yang lebih menarik. “Untuk itu, kami akan berusaha lebih agresif untuk meningkatkan jumlah investor retail di dalam produk-produk reksa dana Bahana yang eksisting,” ujar Edward pada acara jumpa pers Catatan Akhir Tahun 2017 dengan tema “Market and Commander”, Rabu (17/2).


Sepanjang tahun 2017 lalu, Bahana yang termasuk dalam tiga besar perusahaan Manajer Investasi Terbesar di industri reksa dana Indonesia, telah membukukan total dana kelolaan sebesar Rp 48,2 trilliun, dimana kontribusi terbesar berasal dari produk reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap (obligasi).


Edward yakin, PT Bahana TCW dapat mencapai target total dana kelolaan (AUM) hingga Rp 55 trilliun di tahun 2018. “Kondisi makro ekonomi Indonesia di 2018 yang akan diwarnai dengan Pilkada serentak di berbagai daerah, dan acara perhelatan dunia yakni IMF-World Bank di Bali serta Asian Games akan membawa capital inflow yang besar, terutama ke pasar modal Indonesia,” ujar Edward.

 

Meningkatkan Jumlah Investor Retail


Dari total dana kelolaan pada tahun 2017 lalu, mayoritas dana berasal dari investor institusional. Kontribusinya mencapai 83.6%. Sedangkan, dari investor ritel masih sekitar 16.4%. Edward berharap kontribusi investor ritel terhadap dana kelolaan akan meningkat hingga 25% tahun 2018.


Hingga akhir 2017 lalu, Bahana TCW telah bekerja sama dengan 11 bank sebagai agen distribusi, dimana yang terbaru adalah bank BCA yang menandatangani perjanjian kerja sama di akhir 2017 lalu. Selain itu, Bahana juga bekerja sama dengan enam agen distribusi non bank, termasuk teknologi finansial (tekfin) seperti T-Cash dan agen penjual reksa dana (APERD) online seperti Star Mercato Capitale atau Tanamduit.com.
Dari jumlah investor ritel saat ini, sebagian besar merupakan investor berusia di bawah 35 tahun. Artinya, generasi milenial yang menunjukkan antusiasme berinvestasi di produk reksa dana, terutama melalui fintech dan sekuritas online. “Kami akan terus memperluas jaringan distribusi baik melalui bank maupun online dan fintech, dimana generasi milenial cukup familiar menggunakan teknologi tersebut” lanjut Edward.

 

Bullish Outlook


Budi Hikmat, Direktur Investor Relation and Chief Economist Bahana TCW, menilai kombinasi sentimen domestik dan eksternal akan memberi potensi pada penguatan fondasi pemulihan ekonomi, sekaligus menopang peluang investasi di pasar modal Indonesia.
Dalam publikasi Catatan Akhir Tahun edisi ke-10 ini, Bahana menggunakan tema “Market & Commander” dengan menampilkan sepuluh tokoh dunia yang berpengaruh terhadap pasar global. Selain Presiden Jokowi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani dari Indonesia, kami juga membahas sejumlah tokoh dunia berpengaruh lainnya seperti Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan mantan Gubernur The Fed Janet Yellen. Adapun, pemimpin dari Kawasan Eropa seperti Angela Merkel dari Jerman dan Emmanuel Macron dari Perancis.
“Investor mengapresiasi strong and trustworthy leader yang mampu menghasilkan good policy dengan menambah alokasi investasi. Sebaliknya, weak leader dan bad policy akhirnya diganjar dengan aksi jual yang kadang secara spontan dan masif,” ungkap Budi.


Budi menilai banyak investor yang merisaukan dampak kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang pada akhir tahun lalu memotong pajak. Selain akan memicu kenaikan yield T-bond, langkah tersebut dikuatirkan akan memicu fenomena “dollar pulang kampung” yang berisiko menekan harga saham dan obligasi, serta memperlemah rupiah

.
Namun, Budi menegaskan kesiapan faktor internal sangat penting untuk menepis kekuatiran itu. Ada perpaduan sentimen eksternal yang terjadi sejak terpilihnya Donald Trump pada akhir 2016, yakni pelemahan dollar dan penguatan harga komoditas yang cenderung positif bagi negara berkembang secara umum.


Dari segi domestik, posisi Indonesia jauh lebih baik. Beberapa indikator di antaranya seperti penurunan defisit neraca berjalan, penguatan cadangan devisa, perlambatan inflasi dan kestabilan rupiah. Maka, tak heran bila lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings memberikan kado istimewa akhir tahun lalu berupa kenaikan peringkat layak investasi.


Menurut Budi, peningkatan peringkat investasi ini akan menurunkan premi risiko (yield spread) yang diukur berdasarkan selisih antara yield T-bond dan surat utang negara (SUN) Indonesia. “Jadi kendati yield T-bond naik, yield SUN kita tetap berpeluang turun. Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Filipina, dimana yield spread Filipina cenderung meningkat sementara untuk Indonesia cenderung menurun. Ini pertanda investor asing cenderung lebih positif kepada Indonesia”, ujar Budi.


Selain itu, Budi menghargai peralihan fokus kebijakan pemerintah dari percepatan penyediaan infrastuktur yang lebih pro-growth menuju penguatan dukungan sosial yang pro-poor. Memang tidak dapat dipungkiri penyediaan proyek infrastruktur yang lebih bersifat padat modal dan teknologi kurang menyerap tenaga kerja. Itu sebabnya melalui APBN 2018 Pemerintah meningkatkan belanja sosial untuk menjaga daya beli dan perluasan kesempatan kerja. Selain kebijakan pemerintah tersebut, kecenderungan peningkatan harga komoditas ekspor turut memperkuat daya beli.


Sebagai panduan bagi investor, Budi menilai ada tiga kunci utama untuk pemulihan ekonomi dan prospek investasi secara keberlanjutan. Pertama, keberhasilan pemerintah dalam memperluas lapangan pekerjaan. Kedua, pengendalian defisit neraca berjalan. Ketiga, mendorong penerimaan pajak yang tetap ramah bagi dunia usaha.


“Rasio pajak terhadap PDB Indonesia terbilang bisa ditingkatkan secara gradual. Jika upaya ini berhasil maka penawaran (supply) obligasi negara akan berkurang. Hal ini akan diikuti dengan penurunan yield mendekati paras negara sekawasan yang berkisar 5%. Valuasi saham dapat meningkat sehingga mendorong kenaikan IHSG.”

***


Kategori Berita