Totalindo Garap Proyek Menengah ke Bawah Antisipasi Lemahnya Perekonomian

Jakarta -- Di tengah-tengah kondisi market dan perekonomian yang belum begitu menjanjikan bagi perusahaan konstruksi dan properti, PT Totalindo Eka Persada mencatatkan saham perdananya di bursa saham atau melalui initial public offering (IPO) dengan lead underwriter oleh PT Bahana Sekuritas.

Harga IPO Totalindo di set pada kisaran Rp 300 - 490/lembar saham, dengan total 2,15 miliar lembar saham, yang akan mulai diperdagangkan dari 2-6 juni 2017, sehingga mulai tercatat di bursa pada 9 juni 2017. Dana dari hasil penawaran saham ini mayoritas akan dipakai untuk modal kerja sebanyak 60%, sekitar 35% untuk bayar utang dan sisanya untuk membiayai belanja modal.

Menurut Direktur Utama Totalindo Donald Sihombing, dengan kondisi perekonomian saat ini, Totalindo akan lebih fokus menggarap proyek skala menengah-bawah termasuk proyek perumahan pemerintah karena minim risiko proyek, juga kedepan perusahaan akan menggarap proyek infrastruktur dan industrial, sehingga meskipun proyek high end tidak terlalu banyak, masih bisa di-counter dari proyek low end, ungkap Donald. 

Analis Bahana Sekuritas Ricky Ho menilai dengan kondisi saat ini, bisnis Totalindo lebih diuntungkan daripada bisnis Total Bangun Persada yang bisnisnya hampir sama, pasalnya Total lebih fokus pada proyek high end seperti apartment, hotel mewah dan office tower. Dengan kondisi perekonomian yang masih dalam tahap pemulihan, permintaan terhadap properti high-end masih tersendat, sedangkan permintaan untuk perumahan skala kecil seperti rusunami, rusunawa dan rumah subsidi masih tinggi. Apalagi pemerintahan Joko Widodo konsen untuk membangun perumahan murah untuk masyarakat bawah. 

Dengan kondisi sektor properti yang masih slowing down, Totalindo yang memiliki bisnis yang lebih beragam serta sudah masuk ke bisnis menengah-bawah serta menggarap proyek perumahan rakyat akan lebih diuntungkan, ujar Ricky. Apalagi tahun depan, sesuai dengan undang-undang, Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) akan dijalankan, sudah pasti 
pemerintah akan mendapatkan pendanaan untuk perumahan rakyat lebih besar lagi, terang Rizky. 

Dengan gambaran ini, Sekuritas pelat merah ini memperkirakan pada akhir 2017, laba bersih bisa mencapai Rp 269 miliar, naik cukup signifikan dibandingkan pencapaian tahun lalu sebesar Rp 201 miliar, sedangkan pada 2018, Bahana memperkirakan Totalindo akan membukukan laba bersih sebesar Rp 359 miliar.

Pencapaian laba bersih terutama didukung oleh naiknya penjualan menjadi Rp 3,24 triliun pada akhir 2017, dibandingkan pencapaian tahun lalu sebesar Rp 3,13 triliun, karena pada tahun ini saja Totalindo sudah mendapat empat proyek besar seperti pembangunan tower 1-5 di rusun Nagrag senilai Rp 378 miliar, pembangunan rusun penggilingan senilai Rp 383,8 miliar, pembangunan hotel Marriot Ubud senilai Rp 461 miliar serta pembangunan Green Sedayu Taman Palem senilai Rp 260 miliar. Sedangkan pada tahun depan, perusahaan diperkirakan akan membukukan penjualan sebesar Rp 3,69 triliun. 

Menurut Ricky, hingga akhir tahun ini Totalindo diperkirakan akan mengantongi total proyek baru senilai Rp 3,5triliun, sesuai dengan perkiraan Direktur Utama Totalindo Donald Sihombing yang memperkirakan bisa mengantongi proyek sekitar Rp 3-4 triliun.


Kategori Berita