PT BBI Siap Mendukung Pemerintah Menghentikan Impor Cangkul

 

Berdasarkan data dari Kementrian Perdagangan, pada tahun 2016 telah dilakukan impor alat pertanian non mekanik, khususnya cangkul sebesar 86.000 unit dari kuota total impor sebesar 1,5 juta unit. Kebutuhan cangkul nasional adalah sebesar 10 juta unit per tahun. Menurut data Kementrian Perindustrian, kapasitas produksi industri cangkul dalam negeri mencapai 14 juta unit per tahun, yang terdiri dari 12.609 produsen skala kecil dan menengah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

 

Untuk mengurangi impor cangkul dan alat pertanian non mekanik, sejalan dengan program Nawa Cita ke 7 Pemerintahan Jokowi-JK, yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, maka pada tanggal 5 Januari 2017, bertempat di Kementrian Perdagangan, dilangsungkan acara penandatanganganan Nota Kesepahaman  (MoU) Pemenuhan Kebutuhan Bahan Baku Pembuatan Alat Perkakas Pertanian Non Mekanik antara Kementrian Perdagangan dengan PT Krakatau Steel (Persero Tbk), PT Boma Bisma Indra (Persero), PT Sarinah (Persero) dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia.

 

Mentri Perdagangan Airlangga Hartarto menjelaskan, nantinya PT Krakatau Steel akan memproduksi bahan baku medium carbon steel berbentuk lembaran sesuai kebutuhan industri, selanjutnya proses akan dilakukan oleh PT Boma Bisma Indra (BBI) menjadi barang setengah jadi, maksimal sampai dengan 75 persen. Barang setengah jadi tersebut kemudian akan didistribusikan ke PT Sarinah dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia. Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) dan produsen cangkul skala kecil dan menengah akan mengolah barang setengah jadi tersebut menjadi perkakas pertanian. Tidak hanya cangkul, akan tetapi juga alat perkakas pertanian non mekanik lainnya seperti dodos, sekop, garu dan egrek. Disamping itu, Dirjen IKM juga sedang mempersiapkan proses amandemen SNI Cangkul dan penyusunan SNI egrek agar bisa segera diimplementasikan.

 

Direktur Utama PT Boma Bisma Indra , Rahaman Sadikin menuturkan, selaku produsen alat pertanian, pihaknya siap mendukung pemerintah menolak impor alat pertanian, khususnya cangkul. Kapasitas pabrik milik BBI sebanyak 250.000 cangkul per bulan. “Pabrik seluas 7 hektar ini akan kami manfaatkan sebagai penunjang kekurangan kebutuhan alat pertanian seperti cangkul, dodos dan sekop”, imbuhnya.

 

Dalam sambutan penutupnya, Menteri Airlangga mengajak seluruh BUMN, industri kecil dan menengah, serta Kementrian/Lembaga terkait untuk turut menyukseskan keberadaan industri perkakas pertanian lokal guna mendukung kemajuan perekonomian nasional dengan cara mencintai, membeli dan menggunakan produk alat perkakas pertanian dalam negeri. (syc)


Kategori Berita