Belajar Kehidupan Dari Tingkatan Bangunan Candi Prambanan

Candi Prambanan merupakan kompleks bangunan candi yang termasuk kedalam langgam Jawa Tengah dengan batuan penyusun utama berupa andesit, candi ini memiliki nilai sejarah yang tinggi sehingga masuk dalam daftar warisan budaya dunia menurut UNESCO dan dinobatkan sebagai candi Hindu terindah di dunia. Kompleks Candi Prambanan atau yang lebih dikenal dengan Candi Roro Jonggrang dibangun pada tahun 856 Masehi, dan ditemukan kembali oleh C.A. Lons pada tahun 1773.

Bangunan candi juga memuat makna simbolis sebagai tempat penyatuan pikiran antara manusia dengan Tuhan. Candi pemujaan di Jawa pada masa lalunya juga dijadikan sebagai tempat persembahyangan dan tempat umat manusia dari alam bawah (dunia) menghubungkan dirinya dengan para dewata yang bersemayam di alam atas (sorga).

Secara vertikal banguna candi dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, tubuh candi dan Atap Candi. Ketiga bagian itu melambangkan tiga tingkatan dunia yaitu Bhurloka, Bhuwarloka, dan Swarloka.

Kaki candi melambangkan bhurloka yaitu dunia bawah, tempat kehidupan manusia. Dibagian kaki candi, dibagian tengah, terdapat sumuran untuk menempatkan peripih yaitu kepingan-kepingan logam, batu mulia, dan biji-bijian, yang ditempatkan dalam wadah tertentu dan menjadi media para dewa untuk merasukkan zat inti kedewannya.
Bagian ini menggambarkan dunia hewan, alam makhluk halus seperti iblis, raksasa dan asura, serta tempat manusia biasa yang masih terikat nafsu rendah.

Tubuh candi melambangkan bhurwarloka yaitu dunia tengah, tempat kehidupan manusia yang sudah disucikan. Pada tubuh candi, diatas sumuran yang berisi peripih, ditempatkan arca dewa atau objek pemujaan lainnya. Pada bagian ini menggambarkan dunia tempat manusia suci yang berupaya mencapai pencerahan dan kesempurnaan batiniah.

Atap candi melambangkan swarloka yaitu dunia atas, tempat kehidupan para dewa. Sehubungan dengan bagian-bagian candi, maka candi dengan gaya seni bangunan klasik tua dapat dikenali dari profil kakinya. Profil tersebut berupa susunan bingkai datar (pelipit), bingkai sisi genta (ojief), dan bingkai belah rotan. Pada bagian ini menggambarkan ranah surgawi tempat para dewa dan jiwa yang telah mencapai kesempurnaan bersemayam.

Gambaran proses perjalanan kehidupan manusia dari tataran bawah – tengah – atas yang mengacu pada bentuk utuh arsitektur candi dapat memberikan inspirasi tentang pentingnya berbuat kebaikan dan menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang merugikan. Untuk menuju kepada-Nya, maka perlu usaha dan proses penyucian diri dengan melepaskan diri dari belenggu ketamakan, keserakahan, dan mengumbar hawa nafsu duniawi.

Sumber: 
Widya Paramadhyaksa et. All. Kajian Komprehensif Tentang Makna Filosofis Arsitektur Candi Jawa. 2013. Universitas Udayana. Bali
serbasejarah.blogspot.com
purbakalayogya.com


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan