Belajar Memahami Relief Candi Borobudur

Membaca, bukan aktivitas yang mudah, ternyata. Menangkap apa yang dikemukakan, persis seperti apa yang dimaksudkan "penulisnya", butuh kesabaran tersendiri.

Prof. Dr. Primadi Tabrani, Guru Besar Fakultas Seni Rupa ITB, Bandung, yang berupaya selama bertahun-tahun menemukan "cara baca" bahasa rupa yang ada di sekeliling kita. terutama bahasa rupa yang digunakan dalam wayang beber Jaka Kembang Kuning, hingga cara membaca relief yang berada di Candi Borobudur.

Tetapi ternyata tidak mudah menafsirkan kalimat dalam bahasa gambar pada relief Borobudur. Selain karena terlampau tua usia candi ini, hingga tidak mungkin lagi kita bertanya pada penulisnya, tampilan bahasa rupa dalam relief candi tidak serupa dengan bahasa rupa yang kita kenal sekarang.

Berdasarkan penelitian Primadi, bahasa rupa yang digunakan dalam Borobudur, merupakan bahasa yang unik, dan tidak ditemukan di tempat lain. Dalam bahasa yang lain, merupakan bahasa rupa yang khas Indonesia, dengan berbagai pengaruh Asia, terutama India tentu saja.

Bahasa rupa yang digunakan itu disebut sebagai Ruang Waktu Datar (RWD), yang sangat berbeda dengan Naturalis-Perspektif-Momen Opname (NPM) dari Barat yang selama ini kita kenal. Secara umum, RWD lebih mementingkan gesture, sehingga relatif tokoh digambarkan secara lengkap (kepala-kaki), sedangkan NPM sangat peduli dengan mimik wajah.

NPM sudah menjadi semacam keharusan (menghegemoni), sehingga seringkali pendidikan anak telah melenceng dengan memaksakan bahasa NPM ini kepada anak, padahal secara alamiah, anak-anak lebih mengenal RWD dulu, baru kemudian pada usia tertentu bisa memahami NPM.

Sebagai contoh saja, dari Panil No. 46-49 seri Lalitavistara, di Candi Borobudur. Teks yang dirupakan pada panil bercerita tentang sayembara memanah, tersebar di 3 halaman dan mencakup 4 paragraf cerita. Secara naluriah, kita memandang relief ini seperti gambar diam (still picture), seperti hasil jepretan kamera. Padahal tidak begitu. Relief ini menggunakan lapis (layer), yang menunjukkan dimensi waktu, dan pergeseran tokoh sebagai sekuen.

Panil ini sebenarnya cerita, mirip komik yang digambarkan dalam satu panil, yang sebenarnya banyak bingkai-nya (frame). Hanya saja, kalau komik jaman sekarang satu panel bisa terdiri dari beberapa bingkai, dan antar bingkai terpisah dalam ruang kecil, yang disebut closure, maka dalam panil ini closure tersebut dirupakan dalam bentuk lapisan (layer), dan juga pergeseran letak tokoh tanpa bingkai. Satu panel, multi layer, multi adegan, multi dimensi waktu.

Bodhisatwa tampil tiga kali pada "latar depan", karena itu sebenarnya persoalan pembabakan waktu, atau sekuen. Jadi tidak berarti ada 3 Bodhisatwa kembar, melainkan satu tokoh sedang melakukan satu aktivitas secara sekuen.

Kalau kita perhatikan, gambar anak punya kecenderungan sama. Anak seringkali menggambar dengan tokoh atau objek yang diulang, dan itu maksudnya adalah sekuen, tapi tanpa bingkai. Demikian pula, salah satu ciri khas gambar anak adalah menonjolkan objek yang dianggapnya penting.

Dalam gambar primitif, ada ekor sapi/kerbau yang digambarkan banyak (lebih dari satu), ini sebenarnya menceritakan ekor tersebut sedang bergerak, jadi bukan binatang aneh berekor banyak.

Sumber: Tabrani, Primadi. 1991. Meninjau Bahasa Rupa Wayang Beber Jaka Kembang Kuning, Dari Telaah Cara Wimba dan Tata Ungkapan Bahasa Rupa Media Ruparungu Dwimatra Statis Modern, Dalam Hubungannya Dengan Gambar Prasejarah, Primitif, Anak, dan Relief Cerita Lalitavistara Borobudur". ITB Press, Bandung.


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan