Implementasi Nilai 5-S Di Lingkungan Kerja PT TWC

Produktivitas kinerja menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah Indonesia. Hal ini tecermin dengan masuknya program peningkatan produktivitas dalam Nawacita yang digaungkan pemerintah periode 2014—2019.

Pelatihan dan praktik-praktik peningkatan produktivitas kinerja harus dibiasakan dan terus ditingkatkan. Hal ini juga yang dilakukan oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero).

Puluhan peserta yang terdiri dari karyawan PT TWC dari beragam satuan kerja mengikuti Pelatihan Peningkatan Produktivitas yang diadakan selama seminggu penuh. Pada kesempatan kali ini, para peserta tersebut diminta untuk mengimplementasikan nilai-nilai 
"5-S" yang termaksud dalam upaya peningkatan produktivitas tenaga kerja.

Instruktur Pelatihan Peningkatan Produktivitas dari Balai Latihan Kerja dan Pengembangan Produktivitas (BLKPP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Joko Partono ini mengatakan bahwa program 5-S ini merupakan dasar dari program peningkatan produktivitas.

"Pagi ini kita adakan kegiatan praktek implementasi 5-S. Kita benahi ruangan kerja, arsip-arsip dengan harapan ruang kerja menjadi rapi, tertib, teratur, aman dan nyaman." Terangnya Joko.

Program 5-S itu merupakan bagian dari filosofi “Kaizen” yang berasal dari Jepang yang merupakan singkatan dari seiri, seiton, seiso, seiketsu, shitsuke. Sedangkan di Indonesia diterjemahkan menjadi 5-S juga: sisih, susun, sasap, sosoh dan suluh.

"Nilai sisih itu kita lakukan dengan menyisihkan barang-barang yang tidak terpakai. Susun ialah program menata barang-barang yang diperlukan agar mudah ditemukan. Sasap berarti membersihkan ruang kerja agar kenyamanan terjaga. Sosoh ialah mempertahankan ruangan kerja yang telah rapi tertata dan suluh artinya mengajak orang untuk mematuhi dan menjaga ruang kerja yang telah rapi, tertib dan teratur itu." Kata Joko menjabarkan arti progam 5-S tersebut.

Joko menilai bahwa para karyawan yang mengikuti program Pelatihan Peningkatan Produktivitas ini telah baik dalam melaksanakan setiap program pelatihan yang diberikan.

"Selama proses beberapa hari pelatihan ini, kami memandang para peserta amat antusias dan memiliki kepedulian yang tinggi di lingkungan kerjanya. Kami berharap bahwa nilai-nilai ini dapat terus terjaga dan dikembangkan kepada masing-masing satuan kerjanya sehingga terbentuk lingkungan kerja yang produktif." Tutup Joko.

Sementara itu, Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF), indeks daya saing global Indonesia pada 2018 naik ke peringkat 45 dari peringkat 47. Selain itu, selama 2011-2017 produktivitas tenaga kerja di Indonesia terus meningkat. Pada 2017, produktivitas tenaga kerja di Indonesia tumbuh sebesar 2,89 persen, lebih cepat jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1,85 persen.

Meskipun secara global daya saing Indonesia meningkat, di tingkat ASEAN Indonesia masih kalah dari beberapa negara ASEAN lain. Daya saing Indonesia masih berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Indonesia hanya unggul dari Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, serta Laos.


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan