Menilik Sejarah Perbedaan Keyakinan Yang Melahirkan Peradaban Besar

Hubungan dua insan yang berbeda keyakinan dalam sebuah mahligai pernikahan bukanlah hal yang sederhana di Indonesia. Selain harus melewati gesekan sosial dan budaya di masyarakat, birokrasi pemerintahan serta legalitasnya pun rumit.

Selain itu, banyak pula tantangan serta nilai-nilai yang harus disesuaikan oleh pasangan setelah hidup dalam bahtera rumah tangga. Perbedaan itu, tak pelak menjadi sebuah jurang yang semakn lebar dan dapat memisahkan pasangan tersebut.

Dalam bukunya “ ’Til Faith Do Us Part,” Naomi Schaefer Riley, seorang mantan editor The Wall Street Journal menyebutkan bahwa nilai kepuasan pernikahan beda agama lebih rendah daripada pernikahan seagama. Dirinya menyebutkan, dari data yang dia ambil dari 2,450 orang warga Amerika mengatakan bahwa pernikahan seagama lebih membahagiakan (dengan skor 8,4 dari 10) daripada pernikahan beda agama, dengan skor 7,9. Meski begitu, Riley juga tak menampik sisi lain dari surveinya yang menyatakan ada kelompok pasangan beda agama yang justru melaporkan hasil sebaliknya.

Dalam sejarah kerajaan di nusantara, ada beberapa cerita yang mengisahkan tentang hubungan harmonis dan langgeng antara pasangan berbeda agama dan keyakinan dari dua kerajaan yang berbeda. Salah satunya adalah raja Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya dengan Pramodyawardhani, puteri kerajaan Syailendra.

Ratu Pramodyawardhani yang bergelar Cri Kahulunnan banyak mendirikan bangunan bercorak Buddha, misalnya Candi Plaosan. Pendirian candi ini dibantu dan didukung oleh suaminya Rakai Pikatan dari dinasti Sanjaya yang beragama Hindu.

Hal yang sama ternyata pernah juga terjadi waktu sebelumnya. Ayah Ratu Pramodawardhani, Samaratungga membangun Candi Mendut (Wenuwana) dan dibantu serta didukung oleh seorang raja penganut agama Hindu yaitu Rakai Garung.

Kedua pasangan raja dan ratu yang berbeda kepercayaan ini dalam masa kepemimpinannya malah semakin kuat. Munculnya Rakai Pikatan yang telah menikahi Ratu Pramodawardhani, juga memperkuat posisinya di Jawa Tengah bagian selatan, sebuah wilayah yang pada awalnya merupakan kekuasaan kerajaan Buddha. Rakai Pikatan juga membangun bangunan Hindu di wilayah yang awalnya didominasi bangunan corak Buddha, yaitu Candi Prambanan.

Pembangunan Candi Prambanan pada masa Rakai Pikatan yang berasal dari dinasti Sanjaya, pemeluk Hindu, di wilayah agama Buddha ini oleh beberapa ahli untuk menandingi candi-candi Buddha, seperti Candi Sewu dan Candi Borobudur.

Namun, menurut Jordaan (2009), pembangunan Candi Prambanan bukan saingan Borobudur, sebab pada masa itu, dinasti Syailendra masih berkuasa penuh di Jawa Tengah bagian selatan. Sebagaimana rakai Pikatan telah membantu pembangunan Candi Plaosan, maka kemungkinan, Dinasti Syailendra juga turut membantu pembangunan kompleks percandian Prambanan ini (Jordaan, 2009: 55-56).


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan