Peranan Perempuan Dari Relief Candi Prambanan

Candi prambanan atau biasa dikenal dengan sebutan candi Loro Jonggrang merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia. Keberadaannya memiliki banyak sekali makna yang terkandung dan dapat dipelajari untuk kehidupan masa datang.

Peranan perempuan pada relief wiracarita Ramayana di Candi Prambanan muncul dalam berbagai bidang. Peranan wanita di bidang kesenian digambarkan pada adegan wanita penari dan pemusik. Pada panel lainnya didapatkan gambaran mengenai seorang pertapa wanita yang menunjukan peranan wanita di bidang agama.

Dalam salah satu relief Ramayana yang menggambarkan Adegan pasca kelahiran Kusa dan Lawa (anak Sinta) menunjukan peran perempuan yang dominan dalam tanggungjawab pola pengasuhan anak. Peran perempuan nampak pula dalam upacara kematian, pada panel adegan kumbakarna gugur.

Pada panel Kumbakarna gugur tersebut, ditampilkan sifat “rukun” masyarakat Jawa sebagai konsep etis yang diwujudkan dalam tradisi melayat atau takziah. Pada panel adegan kelahiran Kusa dan Lava, anak Sinta digambarkan atensi atau perhatian komunitas sosial yang terbentuk dalam tradisi “muyi/muyen/mbayen” atau menjenguk bayi yang baru dilahirkan serta tradisi adanya adegan kendhuri yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa.

Sifat patriakhi pada relief Prambanan dapat dilihat dari peran minor perempuan, seperti tampak pada salah satu panel yang memperlihatkan bahwa selain peran kecil dalam kesenian dan keagamaan atau tradisi, perempuan hanya berada pada posisi sebagai pelengkap adegan atau berada pada posisi under.

Sumber: Riyani, Mufti. 2015. Local Genius Masyarakat Jawa Kuno Dalam Relief Candi Prambanan. Jurnal Seuneubok Lada, Universitas Samudra, Langsa. Aceh.


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan