Radio TWC Kupas Pengalaman Relawan World Heritage Volunteer

Adakah Sahabat Wisata yang ingin menjadi relawan, baik di dalam maupun luar negeri?

Mungkin banyak anak muda yang berkeinginan untuk mencicipi pengalaman berinteraksi sosial dengan masyarakat baru dengan orang-orang dari belahan bumi lain. Namun mereka terkadang tidak tahu harus ikut program yang seperti apa.

Banyak organisasi non-profit, baik nasional maupun internasional yang membuka lowongan kepada para pemuda untuk menjadi relawan. Biasanya, mereka akan ditugaskan untuk mengerjakan program sosial dalam suatu komunitas. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Dejavato Foundation.

Dejavato Foundation menerjunkan delapan anak muda dari berbagai negara untuk mengikuti kegiatan World Camp 2019 di Desa Bugisan, Prambanan, Klaten. Keempat peserta yang berasal dari empat negara kemudian menceritakan pengalamannya dalam program Radio Taman Wisata Candi (TWC), Selasa (30/07/2019).

Program Radio TWC selama satu jam kali ini menghadirkan empat peserta World Camp 2019, yaitu, Azim Momin dari USA, Emma Yoon dari Korea Selatan, Qi Yang dari Tiongkok dan Pragya Nagar dari India. Mereka merupakan empat dari delapan peserta World Camp 2019 yang diadakan oleh Dejavato Foundation.

Mereka berempat mengaku mendapat pengalaman baru dan berbeda saat mengikuti kegiatan World Camp ini. Seperti Azim mengaku tertarik sekali dengan perawatan tubuh candi yang dia lakukan di Candi Plaosan, Prambanan.

"Kami diajarkan cara membersihkan candi dengan beberapa metode, seperti metode basah dan kering. Dengan ini kami mengetahui bahwa memelihara bangunan cagar budaya merupakan pekerjaan yang serius dan penting untuk dilakukan." terang Azim yang mengaku telah banyak melakukan kerja relawan di berbagai negara lain.

Sementara Emma mengaku tertarik mengikuri program relawan dari Dejavato ini karena lokasinya yang berada di kawasan arkeologi dan situs warisan dunia seperti Prambanan.

"Saya tertarik mengikuti kegiatan ini karena lokasinya yang berada di situs peninggalan warisan dunia, sehingga saya dapat mengenal lebih jauh mengenai situs budaya."

Hal ini juga sama seperti yang dikatakan oleh Qi Yang. "Saya tertarik untuk mengenal lebih jauh mengenai candi-candi yang ada di Indonesia. Karena, candi di Indonesia berbeda dengan yang ada di Tiongkok." katanya.

Sementara Pragya mengaku bahwa tantangan terbesar mengikuti kegiatan ini adalah mengenai bahasa saat interaksi di masyarakat. "Kadang kami berinteraksi dengan merekamenggunakan bahasa tubuh dan lainnya. Kami berusaha untuk menjelaskan sesuatu yang mereka tidak paham, saya pun sebaliknya. Semua jadi pengalaman menantang dan seru selama kegiatan ini. terang Pragya.

World Camp 2109 ini merupakan salah satu kegiatan World Heritage Volunteer (WHV) yang diadakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bawah pengelolaan UNESCO. Program yang telah berjalan dari tahun 2008 ini mengajak anak muda dari berbagai dunia untuk menjaga dan mempromosikan situs budaya warisan dunia kepada khalayak luas.


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan