Mitos Roro Jonggrang Di Candi Prambanan

Nia paling bersemangat diantara keluarganya menyusuri tiap jengkal undakan menaiki Candi Siwa yang berada di komplek utama Candi Prambanan. Usahanya itu untuk melihat secara langsung mengenai sosok Roro Jonggrang yang menurut mitos, diabadikan menjadi salah satu arca yang melengkapi pembangunan Candi Prambanan.

Namun usaha Nia bersama keluarganya gagal. Mereka telah memasuki 4 ruangan utama di Candi Siwa ini, ternyata tidak terpampang nama Roro Jonggrang. Hanya adalah arca Shiwa, Agasty, Ganesha dan Durga. Gadis kecil asal Sukabumi yang sedang berlibur ke Yogyakarta ini pun sempat putus asa dan menyerah karena tidak lagi menemukan arca yang ingin sekalil dilihatnya.

Mitos Loro Jonggrang dan Bandung Bandowoso dalam pembuatan Candi Prambanan, memanglah cukup akrab di telinga wisatawan. Cerita mitos berbalut roman ini memang dengan sengaja terus digaungkan untuk memikat wisatawan datang berkunjung ke Candi Prambanan.

Menurut Roy Jordan dalam Memuji Prambanan, Loro Jonggarang yang berarti “Gadis Semampai” merujuk pada arca Durga Mahisasuramardini yang terletak di bilik sebelah utara dari candi induk, yaitu candi Siwa di kompleks Candi Prambanan di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Karena arca Durga berada di candi induk, kompleks Candi Prambanan biasa disebut Candi Loro Jonggrang.

Di masa lalu, arca Durga, memikat luar biasa para penduduk setempat. Ini terlihat dari rupa-rupa sesajen berupa dupa, beras, bebungaan atau uang, bahkan kambing-kambing yang masih hidup.

C.A. Lons, pegawai VOC, kali pertama berkunjung ke reruntuhan Candi Prambanan pada 1733 dan melaporkannya sebagai “kuil-kuil Brahmana” tanpa perincian lebih lanjut. Keterangan dan sketsa pertama puing-puing Candi Loro Jonggarang ditemukan dalam buku History of Java karya Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Sir Stamford Raffles. Judul sketsa karya J. Mitan pada 1815 itu berbunyi “candi induk di Jongrangan.”

Banyak yang meyakini bahwa Loro Jonggrang adalah Durga Mahisasuramardini itu sendiri. Hal ini dapat dilihat yang mana, hanya arca Durga yang berjenis kelamin perempuan daripada arca lain di bangunan Candi Siwa, Prambanan.

Durga Mahisasura Mardini yang berarti Dewi Penakluk Asura. Durga sendiri adalah dewi bertangan delapan dan perwujudan dari Parwati, istri Siwa. Arca Durga Mahisa sura Mardini ini digambarkan Sang Dewi menaiki banteng. Rupanya inilah yang dianggap sebagai arca Roro Jonggrang, putri cantik yang konon berhasil memperdaya Bandung Bondowoso lantas dikutuk menjadi arca.

 

Kategori Berita
Sub Kategori Artikel,Kegiatan