Setahun, Bulog Manado Kucur 28 Ribu Ton Beras

MANADOPOSTONLINE.COM—Beras jadi komoditas pokok masyarakat di Indonesia. Selain disediakan secara komersial melalui pelaku usaha, lewat menyerap hasil pertanian di daerah. Sudah jadi tugas utama bagi, Badan Urusan Logistik  (Bulog) Divisi Regional  Sulawesi Utara dan Gorontalo untuk mengamankan stok kebutuhan di dalam area kerjanya.

 

Secara tahunan, dikatakan Kadivre Bulog SulutGo Sopran Kenedi jumlah ideal kebutuhan beras, khususnya di Provinsi Sulut mencapai 28.000 ton. Angka ini diilustrasikannya, apabila tiap bulannya konsumsi warga Nyiur Melambai mencapai 2.200 ton.

 

“Toh jika dikalikan dengan 12 bulan, masih ada selisih 1.600 ton yang bisa fleksibel kita arahkan ke tempat yang lebih membutuhkan. Dan patut dicatat, pemenuhan pangan ini kan sangat prinsipil. Ketika ada gejolak di pasaran, di situ baru kita penetrasi. Kalau tidak, artinya bisa tertampung untuk jangka waktu berikutnya. Jadi untuk kondisi 28 ribu saat ini, saya rasa sudah lebih dari cukup,” terang Kenedi.

Lanjutnya, karakteristik permintaan beras di Sulut, lebih ke daerah yang notebenenya tidak menjadi daerah primer produsen beras. Seperti di daerah kepulauan, yang lebih diarahkan ke pemberian Bantuan Sosial (Bansos, red).

“Kalau Bolmong dan Minahasa Selatan produksinya bagus, artinya suplai kita ke Sangihe dan Sitaro masing-masing 1.000 ton, bisa cepat terganti lagi,” imbuhnya.

Disinggung soal kualitas beras Bulog, yang tak jarang mendapat komplain dari masyarakat. Dikatakannya, penerapan sistem first in first out dalam manajemen penyimpanan beras. Jadi solusi guna menjaga kualitas, beras tiba di tangan masyarakat dalam kondisi fresh. 

 "Yang kita drop ke daerah itu, beras yang baru masuk justru. Selain itu, rutinitas menjaga kebersihan gudang penampungan intens kita lakukan," katanya.

Terpisah, Ekonom Joy Tulung menyatakan, peran Bulog sebagai benteng terakhir pangan di Indonesia. Harusnya bisa lebih dioptimalkan lagi, dengan makin berpihaknya harga pembelian gabah di tingkat petani. Memang, hal itu tak semudah membalik telapak tangan, perlunya inovasi dan skema pembelian yang lebih dirasa memihak petani. Tak tertutup bisa dilakukan BUMN Pangan ini.

“Karena selain perikanan, pertanian jadi penggerak riil ekonomi kita. Banyak petani menggantungkan nasibnya pada harga jual gabah. Mungkin bisa ada terobosan-terobosan baru dari Bulog, untuk menyiasati keterbatasan ruang gerak membeli, di luar harga tetap yang ditentukan undang-undang,” papar dia. (jul)

Sumber : https://manadopostonline.com/read/2019/04/20/Setahun-Bulog-Kucur-28-Ribu-Ton-Beras/56448


Kategori Berita