Dikarantina di Markas TNI AU Begini Kesan Karyawan DAHANA

Latihan Dasar Kepemimpinan (Latsarpim) menjadi salah satu pelatihan yang akan selalu dikenang oleh belasan Karyawan DAHANA yang bertugas di Unit Pabrik Booster JO DAHANA-DAK (JODD). Selama 6 hari mereka dilatih oleh Pasukan Khusus TNI AU.

Tanggal 16 Juli 2018, karyawan DAHANA berjumlah 18 orang ini memasuki sebuah kawasan khusus TNI AU, BATALYON  KOMANDO 461 PASKHAS KOMPI SENAPAN C, Kalijati, Subang. Di tempat inilah mereka dilatih, senasib bersama melalui semua latihan sampai dengan 21 Juli 2018.

Banyak cerita dan kesan yang dialami peserta selama pelatihan. Ian Rendy Putra Sebayang, Senior Operator JODD Booster, mengungkapkan kesan-kesan selama mengikuti pelatihan. Banyak rasa yang berbaur menjadi satu, sedih, marah, emosi, senang, tawa, bahagia semua menjadi satu.

”Luar biasa, benar-benar 6 hari yang luar biasa, semua rasa menjadi satu,” terang Rendy Kepada Dfile.

Meski diliputi perasaan yang ’gado-gado’ Rendy merasa ada hal-hal mulai berubah kearah lebih baik. Ia kini memahami pentingnya Disiplin, kerjasama, kesabaran dan menghormati orang lain, ”Enam hari itu secara pribadi berhasil merubah saya jadi lebih baik, kini semakin memahami bagaimana cara menghormati orang lain,” ujarnya.

”Mengikuti pelatihan ini tidak ada ruginya. Benar-benar membentuk karakter yang lebih kuat, Intergritas, percaya diri, jiwa korsa yang kuat, disiplin, mental baja, dan tangguh,” imbuh Rendi.

Hampir senada dengan Rendy. Peserta lainnya Gugun Gunawan, Operator Produksi JODD, mengungkapkan perasaannya pasca mengikuti pelatihan. Ia merasa pelatihan sepekan itu begitu luar biasa. Banyak pelajaran berharga yang mungkin belum tentu ia akan dapatkan ditempat lain.

Pelatihan telah mengajarkannya tentang kepedulian, kedisiplinan, dan tidak mudah apatis terhadap yang terjadi dilingkungan sekitar, ”Saya sangat beruntung bisa mengikuti pelatihan ini. Semoga bisa terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Begitupun dengan kesan yang diutarakan oleh Ela Nurhayati, Junior Operator JODD Boster, latihan yang dibimbing langsung oleh militer tersebut memberikan kesan mendalam baginya, ”Saya baru pernah ikut kegiatan sepertin ini (Latsarpim) yang melibatkan militer, saya merasa beruntung bisa dilatihnya,” kata Ela.

”Hampir banyak kegiatan menyimpan kesan, kekompakan kami jadi terbentuk,” terangnya.

 

Makan yang menegangkan

Tentunya dalam setiap kegiatan pelatihan ada dua hal yang sering menjadi kenangan, hal yang paling dibenci dan paling disuka. Ternyata hal yang paling tidak disukai dalam kegiatan Latsapim ini, Rendy, Gugun dan Ela kompak menjawab kegiatan makan.

Makan yang semestinya menjadi aktifitas menyenangkan karena untuk memenuhi nutrisi dan menghilangkan rasa lapar, pada pelatihan ini menjadi kegiatan yang menegangkan.

”Selama saya ikut pelatihan apapun, baru di pelatihan ini saya paling benci kalau sudah ketemu jam makan dan snack,” ujar Rendy disusul gelak tawa.

”Sebel. Pertama kalinya saya makan pakai dihitung. Dan kegiatan bimbingan fisik, fisik saya benar-benar terkuras hingga muntah berkali-kali,” kata Gugun berceritra.

”Selama 6 hari belum pernah bisa menikmati makan. Makan diwaktu jadi yang penting tertelan masuk perut. Kalau makan saya selalu menjadi peserta paling akhir. Waktunya hanya dua menit,” tutur Ela.

Meski ada kegiatan menyebalkan, dipenghujung agenda pelatihan menjadi kegiatan yang paling disuka, karena keseruannya, yaitu kegiatan outbond. Kegiatan ini digelar di hutan Karet yang berdekatan dengan tempat latihan.

Nampaknya pelatih menggunakan metode pelatihan serius namun santai, keseriusan ini menjadi peringatan karena kegiatan perlu memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan diri, namun dibangun dengan suasana santai.

”Pada kegiatan Outbound kita bisa tertawa lepas, padahal kegiatan-kegiatan lainnya selalu serius, kalau ada yang tertawa bisa di hukum,” ungkap Ela. (SYA)


Kategori Berita