EMI dan Slank Berbagi Cerita Tentang Krisis Air

Untuk menggencarkan kampanye konservasi dan hemat air di kalangan masyarakat, PT Energy Management Indonesia-Persero (EMI) menggandeng Slank, band papan atas yang terkenal akan kepeduliannya pada kondisi lingkungan dan sosial.
 
Acara digelar di Hotel All Seasons, Minggu (22 Maret) yang bertepatan dengan Hari Air Sedunia. Sebelum acara talkshow, Slank menggelar konser mini di ajang Car Free Day. Sejumlah lagu mulai dari Mars Slankers, Krisis Air, Ku Tak Bisa, hingga Garuda Pancasila dikumandangkan Kaka, Bimbim, Ivanka, dan Ridho, minus Abdee yang tengah sakit.
Selesai konser mini, Slank kembali ke Hotel All Seasons dengan bersepeda, di mana para reporter dan fotografer telah menunggu mereka.
 
Talkshow dibuka dengan penayangan video yang menggambarkan pentingnya air bagi kehidupan hingga kerusakan yang ditimbulkan akibat penyedotan air tanah yang tidak terkendali.
 
Dalam talkshow tersebut, Direktur PT EMI Aris Yunanto menegaskan perlunya menghemat air tanah karena jumlahnya yang sangat sedikit, serta menggunakan air laut dan air permukaan, tentunya setelah mengalami proses pengolahan sehingga aman dikonsumsi.
“Sebanyak 97 persen air yang ada di dunia ini adalah air laut, sisanya 3 persen berupa air di darat seperti yang ada di kali, danau, sungai, selokan dan bawah tanah. Dari jumlah 3 persen tersebut, sebetulnya bisa dikonsumsi kalau kita mau. Tapi selama ini kita hanya bisa mengonsumsi air yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan bebas dari mikro-organisme, dan ini kurang dari 1 persen,” kata Aris mengawali paparannya.
 
Ditambahkannya, EMI sebagai satu-satunya BUMN yang ditugasi mengurus konservasi energi dan air, sejak 2 tahun lalu telah mengupayakan untuk tidak lagi menggunakan air tanah.
 
“Kami membangun instalasi pengolahan air laut dan air permukaan. Air yang dihasilkan, harganya tidak lebih mahal dari yang dijual PDAM,” kata Aris.
 
Bassist Slank, Ivanka, mengatakan bahwa kelompoknya sudah terlibat dalam kampanye air bersih sejak 2010. Menurut dia, Slank tidak saja berkampanye melalui lagu, tapi juga dalam kehidupan mereka sehari-hari.
 
“Salah satu caranya, kami bikin sumur resapan di rumah. Tanah di halaman kami bikin lubang biopori sehingga air hujan bisa masuk kembali ke dalam tanah, tidak hanya masuk ke selokan dan kembali ke laut. Air yang masuk ke tanah itu bisa kita pakai lagi,” kata dia.
Ivanka juga menyayangkan sikap hidup masyarakat yang boros air. “Untuk sekali mencuci mobil, kita butuh 150 liter,” kata dia.
 
Di sisi lain, kata dia, penyedotan air tanah membuat sejumlah daerah kekurangan air bersih.
 
“Saya tahu suatu daerah di Jawa Tengah yang kekurangan air bersih karena disedot oleh salah satu perusahaan air mineral,” sesal dia.
Drummer Slank, Bimbim, mengatakan bahwa sebagai musisi, selama ini  pihaknya menggunakan media musik untuk berkampanye tentang lingkungan, termasuk soal kepedulian pada air. “Kami punya lagu berjudul ‘Krisis Air’. Lagu ini diilhami oleh situasi di salah satu desa di Afrika di mana penduduknya harus menepuh 8 km untuk mencari air,” kata dia.
 
Menurut Bimbim, Slank selalu berusaha untuk peduli pada lingkungan di mana dalam albumnya, selalu ada lagu yang bertema lingkungan.
 
“Kami punya lagu seperti Krisis Air, Lembah Baliem, Tidak Perawan Lagi dan sebagainya yang semuanya berkisah tetang kepedulian terhadap lingkungan,” kata Bimbim, seraya menambahkan bahwa ide lagu-lagu tersebut berasal dari buku dan kenyataan sehari-hari.
Vokalis Slank, Kaka, menuturkan pengalaman Slank terkait dengan sulitnya mencari air ketika menggelar konser di berbagai kota.
“Kami juga pernah mengalami krisis air saat mau manggung, terutama di daerah-daerah dan ini tidak hanya terjadi sekali dua kali,” kata dia.
 
Menurut Kaka, kampanye air bersih dan lingkungan akan lebih efektif bila dilakukan pada generasi dini. “Lebih mudah mengajari anak kecil dibandingkan dengan orang dewasa yang telah ‘karatan’,” kata Kaka. (\m/)

Kategori Kegiatan