Terbukti Tekan Kesenjangan Harga

Program tol laut yang dicanangkan  Presiden Jokowi, mulai tampak menunjukan hasilnya. Khususnya dari segi ketersediaan barang kebutuhan pokok dan sehari-hari. Seperti di wilayah timur Indonesia dan daerah-daerah terpencil dan pulau terluar.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Ditjen Perhubungan Laut, Bay M Hasani mengatakan, berdasarkan data dari Kemendag, di wilayah timur Indonesia mengalami deflasi atau penurunan harga terutama untuk harga kebutuhan pokok. Target pemerintah untuk mengurangi disparitas harga antara timur dan barat Indonesia, mulai terlihat. "Berdasarkan data yang kami terima, jenis komoditi sudah banyak yang harganya turun. Itu terkait adanya program tol laut," ujar Bay, saat berdiskusi dengan para awak media.

Ia lantas memberikan contoh. Untuk daerah Larantuka, harga beras pada Agustus 2016 lalu mencapai Rp 12 ribu per Kg. Pada Juni 2017 harganya Rp 10 ribu atau turun 1,7 persen. Kemudian Gula Pasir,  pada Agustus 2016 lalu harganya  mencapai Rp 18 ribu. Pada Juni 2017, harganya turun menjadi Rp 15 ribu. Kemudian, minyak goreng kemasan,  pada Agustus 2016 lalu harganya mencapai Rp 17 ribu. Namun pada Juni 2017, turun menjadi Rp 15 ribu. Kemudian, masih diperiode yang sama, Tepung Terigu yang tadinya Rp 10 ribu, turun menjadi Rp 8 ribu. Kemudian harga triplek 3 mm, yang tadinya Rp 55 ribu, turun menjadi Rp 53 ribu.

"Tidak hanya di daerah Larantuka, di wilayah lainnya, harga komoditas setelah adanya tol laut juga turun," jelas Bay. Seperti di  Fak-Fak. Pada periode Agustus 2016, harga beras mencapai Rp 11.500. Namun pada Juni 2017 turun menjadi Rp 10 ribu. Harga Gula Pasir juga demikian. Dari yang tadinya Rp 16 ribu, turun menjadi 15 ribu.

Di Dobo, di periode yang sama, harga  gula pasir yang tadinya Rp 18.750 turun menjadi Rp 15.200. Harga tepung terigu, yang tadinya Rp 12 ribu, turun menjadi Rp 11.200. Di Anambas juga demikian. Harga beras yang tadinya Rp 14 ribu, turun menjadi Rp 12 ribu. Harga gula pasir yang tadinya Rp 16 ribu, turun menjadi Rp 15 ribu.

Hal yang sama menurut Bay juga terjadi pada harga barang. Seperti Semen. Di Wamena harga semen semula Rp 500 ribu/sak. Saat ini turun menjadi Rp 300 ribu/sak. Di Puncak Jaya, harga semen Rp 2.500.000. Saat ini turun Rp 1.800.000. "Di wilayah itu harga semen memang mahal. Karena ongkos angkutnya. Namun sekarang harganya turun," jelas Bay. "Penurunan harga juga didukung program Rumah Kita atau sentra logistik yang dilakukan BUMN," imbuhya.

Kemenhub dan Kementrian BUMN memang mensinergikan BUMN transportasi laut, Pelni dan ASDP, serta BUMN pengelola pelabuhan (Pelindo). Termasuk BUMN penyedia bahan pokok dan barang penting. Perusahaan milik negara itu mendukung program tol laut. Yakni dalam wadah "Rumah Kita" atau sentra logistik.

"Memang tidak mudah untuk berkoordinasi. Karena ada beberapa pejabat dari BUMN yang sempat tidak hadir saat diajak rapat. Namun setelah dibahas oleh pak Menhub, dan akan diadukan ke bu Mentri BUMN, sudah banyak yang rapat," jelasnya.

Adapun lokasi "Rumah Kita" untuk wilayah Nias dan Mentawai, penanggung jawab PT Pelindo I. Wilayah Natuna dan Tahuna, penanggung jawab PT Pelindo II / IPC. Kemudian untuk Dompo, Waingapu, Rote dan Kalabahi, penanggung jawab PT Pelindo III. Sedangkan di Nabire, Tobelo, Sebatik, Tidore dan Sangatta/Lhoktuan, penanggung jawab PT Pelindo IV.

Adapun untuk di Morotai, Saumlaki, Manokwari dan Timika, adalah PT Pelni. Sedangkan untuk di Merauke dan Namiea adalah PT ASDP. "Tugas penanggung jawab Rumah Kita atau sentra logistik seperti melakukan koordinasi dengan Pemda. Serta stakeholders terkait dengan kebutuhan barang dan pendistribusian barang dari dan ke wilayah sekitar lokasi sentra logistik," jelas Bay.

Lebih lanjut ia mengatakan, program Sentra Logistik diharapkan juga dapat merekut para pedagang baru (di luar pedagang lama). Jadi tol laut itu, mengutip pernyataan Jokowi, adalah konektivitas laut yang efektif. Berupa adanya  kapal yang melayari secara rutin dan terjadwal. Dari barat sampai ke timur Indonesia.

"Paramater untuk mengukur tol laut itu adalah ketersediaan barang dan mengurangi disparitas harga. Serta  meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Bay. Bukan dari seberapa besar subsidi yang diberikan. Atau untung atau rugi. Sebab menurutnya, subsidi juga diberikan untuk sektor transportasi lainnya. "Namun itu tidak seluas tol laut. Yang jangkauannya hingga daerah-daerah terluar dan terpencil di Indonesia," pungkasnya.

 

Sumber :

http://nasional.indopos.co.id/read/2017/08/26/108238/Terbukti-Tekan-Kesenjangan-Harga


Kategori Artikel