Indonesia Butuh 13,6 Juta Rumah Baru

Proyeksi Pembiayaan Perumahan Rp 1.200 T

 

Jakarta- Program pengadaan satu juta rumah yang dicanangkan pemerintah melalui Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) disambut positif oleh Industri perbankan. Potensi pembiayaan program yang ditujukan bagi masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah itu sedikitnya Rp 1.200 triliun.

Dirut PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Maryono menyatakan, saat ini terdapat 13,6 juta kepala keluarga (KK) yang belum memiliki rumah. Sebanyak 6,4 juta diantaranya masih tinggal dengan cara sewa dan 7,2 juta lainya tinggal menumpang. “dengan adanya program dari pemerintah Jokowi tentang rencana pengadaan satu juta rumah yang laya, dampaknya akan signifikan dari sisi sosial dan industri perbankan, ujar Maryono.

JK sempat menuturkan keinginanya agar dalam tahap awal pembangunan satu juta rumah mulai dilakukan tahun ini. Namun, katanya Maryono, menurut perhitunganya, tahun ini paling tidak bisa merealisasikan 400 ribu rumah. Sebab terdapat beberapa masalah yang harus dilalui. Antara lain, keterbatasan lahan dan pada saat yang sama harga lahan tersebut naik dengan cepat. “Perizinan untuk membangun rumah juga butuh proses. Lalu, harus ditopang infrastruktur lain seperti pasokan listrik PLN, air dan sebagainya, jelasnya.

Masalah lainyaadalah faktor pembiayaan. Memang, menurut dia, perbankan, terutama BTN yang fokus pada pembangunan rumah rakyat, sangat siap merealisasikan program tersebut. Tetapi, tetap dibutuhkan penentuan skema sistem pembiayaan. Dan penentuan harga jual. “ kalau kita (BTN) inginya penuhi konsumen yang saat ini masih sewa dulu”, Paparnya.

Meski terdapat berbagai tantangan, Maryono optimis hal tersebut bisa dilalui. Terlebih dibalik tantangan itu ada potensi besar yang harus disambut industri perbankan, terutama BTN yang memang menggarap sektor tersebut. Sekarang ada kebutuhan  13,6 juta rumah itu. Misalnya, Kita kerjakan 10 jura rumah saja dengan harga rata-rata Rp 120 juta per rumah, potensi pembiayaannya Rp 1.200 triliun, jelasnya.

Dengan keinginan pemerintah membangun satu juta rumah pertahun, potensi pembiayaan pertahun nya sekitar 120 triliun. Dampak dari program ini akan dirasakan ke pertumbuhan sekitar 173 sektor industri. Yakni industri genting, batu bata, baja, keramik, kayu da lainya. Kalau mereka potensial besar dan butuh pembiayaan, dampaknya ke bank juga. Kam nantinya bisa berikan pembiayaan ke pelaku industri dibawah properti itu’ papar Maryono.

Uang yang mengalir dalam program tersebut, kata Maryono, akan berputar untuk terus menjalankan program itu sampai kebutuhan rumah yang ada saat inibisa terpenuhi. Perputaran itulah yang juga semakin menggairahkan sektor perbankan. Pengamat ekonomi Yanuar Rizkilai menilai, ditengah ketatnya likuiditas saat ini, program pengadaan rumah bisa menjaganya agar tetap terjaga. Namun melihat besarnya kebutuhan dana, potensi sinergi perbankan terutama bank badan usaha milik negara (BUMN), diperlukan. Arah akan terjadinya sinergi BUMN. Tapi nantinya setiap bank itu akan punya fokus sendiri-sendiri. Ada yang fokus ke perumahan langsung ke konsumen, ada yang ke korporasinya , ucapnya.

Selain itu kata Yanuat, dalam teknisnya, program pembangunan rumah kelas menengah kebawah tersebut disarankan bersinergi dengan program sosial yang ada, tertama program jaminan kesehatan sosial (JKS). Sejauh ini pemerintah punya konsep bahwa program sejuta rumah per tahun terdiri atas 600 ribu rumah subsidi, 250 ribu rumah nonsubsidi, dan 150 rribu rumah rakyat.

 

Sumber Jawapos


Kategori Berita