PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KINERJA UNGGUL (SMKU)

Reinstalling vision 35-26:

PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KINERJA UNGGUL (SMKU)

Oleh: HAJAD DHARMAWAN (BAGIAN GCG & MANAJEMEN RISIKO) 

Tuhan, berikanlah aku kebesaran jiwa untuk menerima hal-hal yang tak dapat kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah dan kebijaksanaan untuk membedakannya. (Reinhold Nieburh, 1926)

 

Dalam penerbangan kembali dari Jakarta menuju Medan, ada sebuah artikel Wisdom in the Air yang begitu menginspirasi, sehingga menggugah saya untuk memberanikan diri menjadi SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) dengan seorang pramugari yang kebetulan lahir di Padang Bulan Medan, agar mengizinkan saya untuk membawa pulang majalah itu. 

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati dunia tak kunjung berubah. Maka cita-cita itupun agak kupersempit, lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.  Namun tampaknya hasrat itupun tiada hasilnya. Ketika usiaku se-makin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat denganku. Tetapi celakanya merekapun tidak mau diubah. Dan kini ketika aku terbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari, “Andaikan yang pertama-tama yang kuubah adalah diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi akupun mampu memperbaiki negeriku, kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa mengubah dunia!”. 

Tulisan yang mengharukan tersebut dipahat di atas sebuah makam di Westminster Abbey, Inggeris tahun 1100 Masehi.Apanya ya dari tulisan itu yang menginspirasi? Adalah kata kunci dalam tulisan itu,yaitu ‘ubahlah diri sendiri sebelum mengubah orang lain’.

Setiap kita mungkin pernah pada suatu saat memiliki keinginan dan keyakinan yang begitu kuat menjadi seorang yang berhasil. Berhasil memajukan perusahaan yang dicintai untuk sejajar atau bahkan lebih unggul dari perusahaan lain. Namun, pada akhirnya waktu jualah yang menguji tekad dan keyakinan tersebut. Hari demi hari berlalu dan tak terasa usia pun terus bertambah, laluapa yang terjadidengan keinginan kuat kita untuk memajukan perusahaan? Ketika kita menelusuri kembali perjalanan hidupkita, ternyata tidak banyak yang telah kita ubah, seperti dalam tulisan pada makam diatas. Bahkan celakanya lagi, bisa jadi kita hampir tidak bisa mengubah diri kita sendiri.

Lalu apa kaitannya tulisan yang menginspirasi itu dengan kita yang berkiprah di perusahaan yang kita cintai ini? Ada! Bagi kita yang masih memiliki semangat juang untuk memajukan perusahaan, sangat dibutuhkan untuk menjadi akselerator pembangun kinerja yang ekselen di setiap lini. Karena hal itu merupakan tuntutan utama terhadap suatu  korporasi untuk mencapai kinerja finansial dan non finansial terbaik pada tingkat nasional maupun regional sebelum menjadi world class company (baca: memajukan perusahaan).

Peluang untuk menjadi pemain regional bahkan pemain dunia dan berkinerja kelas dunia sangat terbuka lebar bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia, sejauh BUMN tersebut mampu membangun fundamental dan tatanan kesisteman perusahaan yang kokoh dan powerful serta efektif dalam men-deliver strategi maupun program-program utama perusahaan.

Majalah Forbes dalam edisi Forbes Global 2000 memberitakan pada tahun 2012 yang lalu terdapat 6 BUMN dari 10 perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar perusahaan yang paling berpengaruh di dunia. Ke-6 BUMN itu antara lain PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Mandiri Tbk menempati dua posisi teratas. Sementara tiga BUMN lain yaitu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk menempati urutan 5, 6, dan 7, sementara PT Semen Gresik Tbk menempati posisi ke 9.

Dalam rangka peningkatan kemam-puan dan daya saing seluruh BUMN di Indonesia tersebut, Kementerian BUMN telah memutuskan untuk membangun dan mengimplementasikan sebuah sistem pengelolaan dan pengendalian kinerja yang akan menjadikan seluruh BUMN di Indonesia mampu berkiprah tidak hanya di kancah nasional dan regional namun juga mampu bersaing secara global. Sistem itu kelak dinamakan Sistem Manajemen Kinerja Unggul (SMKU) yaitu bagaimana sebuah korporasi mampu memenuhi seluruh kriteria yang harus dimiliki selayaknya sebuah korporasi berkinerja unggul.

Memang dalam berkiprah untuk menjadikan perusahaan berkinerja unggul, kita menyadari bahwa sesungguhnya setiap orang dalam suatu lini berada di antara tiga buah lingkaran dengan pusat yang sama dalam kaitannya dengan perubahan. Lingkaran paling luar adalah lingkaran  perhatian (circle of attention). Pada lingkaran ini, seseorang hanya bisa menjadi penonton yang setia. Praktis tidak memiliki kekuatan untuk melakukan apa-apa selain menerima apa yang terjadi dan berdoa saja.

Lingkaran yang kedua adalah lingkaran pengamatan (circle of concern). Di lingkaran ini, seseorang hanya menjadi pemeran figuran. Namanya juga pemeran figuran, kadang dipakai kadang tidak. Walaupun orang tersebut bisa berinteraksi dengan  pemeran utama atau pemeran pembantu tetapi tidak bisa berbuat banyak selain memberikan dukungan berupa upaya dan kadang-kadang dana.

Nah, lingkaran ketiga merupakan lingkaran yang paling dalam, merupakan lingkaran pengaruh (circle of influence). Pada lingkaran ini, seseorang menjadi pemain utama. Ia sangat bisa melakukan sesuatu untuk menciptakan perubahan. Memang lingkaran pengaruh ini mungkin terasa kecil bagi seseorang pada awalnya, namun bila lingkaran ini digarap dengan baik dansungguh-sungguh, lingkaran ini akan membesar dan mempengaruhi apa yang tadinya berada pada lingkaran perhatian dan bahkan yang berada di lingkaran pengamatan bisa masuk ke dalamnya.

Kesalahan yang seringkali terjadi pada saat seseorang berusaha melakukan perubahan adalah ia justrusibuk mengubah apa yang ada di lingkaran pengamatan tanpa memperbesar lingkaran pengaruhnya. Bahkan yang lebih mendasar lagi, banyak orang yang bahkan tidak bisa membedakan mana yang berada di lingkaran pengamatan, mana yang berada di lingkaran perhatian dan mana yang merupakan lingkaran pengaruh baginya. Tidak mudah memang untuk menyadari ketiga lingkaran tersebut apalagi membedakannya. Untuk bisa menggunakan ketiga lingkaran tersebut dengan tepat dibutuhkan kebesaran jiwa, keberanian dan kebijaksanaan seperti doa yang dipanjatkan oleh Reinhold Nieburh di atas.

Kembali kita pada topik tulisan ini. Sistem Manajemen Kinerja Unggul sebenarnya hanyalah pemenuhan seluruh parameter dalam beberapa kriteria selayaknya sebuah perusahaan berkinerja unggul.   Masing-masing kriteria memiliki poin, dan total poin jika terpenuhi seluruhnya adalah 1000 (world class company). Kriteria yang dinilai sebagai berikut

  1. Kepemimpinan 120 poin
  2. Perencanaan strategis 85 poin
  3. Fokus pada pelanggan 85 poin
  4. Pengukuran, analisis dan mana-jemen pengetahuan 90 poin
  5. Fokus tenaga kerja 85 poin
  6. Fokus pada operasi 85 poin
  7. Hasil 450 poin

Dari poin pemenuhan yang dimiliki oleh sebuah perusahaan terhadap masing-masing kriteria tersebut, maka kinerja perusahaan diklasifikasi menjadi.

  1. World class leader 876-1000 poin
  2. Bencmark leader 776-875 poin
  3. Industry leader 676-775 poin
  4. Emerging I. Leader 576-675 poin
  5. Good performance 476-575 poin
  6. Early Improvement 376-475 poin
  7. Early Result 276-375 poin
  8. Early Development 0-275 poin

Sebagai gambaran, pada tahun 2013 posisi PTPN I (Persero) berada pada Early Result dengan perolehan poin 296. Banyak kendala yang harus segera kita perbaiki untuk meningkatkan peringkat kinerja perusahaan menjadi Early Improvement dengan poin minimal 376 maupun peringkat-peringkat selanjutnya. Diantaranya, penerbitanStandard Operating Procedure perusahaan, penanganan klaim pelanggan, tindak lanjut penanganan risiko, kebutuhan dan kompetensi karyawan, integrasi dan interkoneksi antar bagian, rencana strategisperusahaan, data kompetitor, kelengkapan semua eviden atau bukti kinerja atau kegiatan yang telah dilakukan, pembelajaran, penerapan sistem di segala aspek secara menyeluruh dan konsisten, pemahaman tata  nilai perusahaan pada setiap individu dan sebagainya. Sudahkah semua itu terpenuhi jika dilakukan evaluasi?

Memang, untuk mendapatkan lompatan besar peningkatan peringkat kinerja perusahaan, dibutuhkan kemauan dan semangat dari seluruh komponen perusahaan (champion team) untuk bersama-sama meningkatkan kinerjanya masing-masing dan memenuhi seluruh kriteria yang dipersyaratkan untuk menjadi perusahaan yang berkinerjaunggul. Dan harus kita pahami bahwa sesungguhnya filosofis SMKU adalah mengalahkan kompetitor. 

Yang harus kita sadari adalah, kita mungkin tidak bisa mengubah sesuatu karena mungkin kita berada di lingkaran perhatian ataupun pengamatan, walaupun di sisi lain kita belum tentu bisa menerima kenyataan tersebut meskipun tahu persis bahwa kita sejatinya bisa mengubahnya. Pada kesempatan lain, kita sebenarnya bisa melakukan perubahan, tetapi kita tidak memiliki cukup keberanian untuk memulainya. Namun yang lebih penting lagi, kita seringkali  kehilangan pijakan pada saat harus membedakan mana yang bisa kita ubah dan mana yang belum saatnya kita ubah.

Semoga kita memiliki kebijaksanaan untuk mulai mengubah perusahaan yang kita cintai ini menjadi perusahaan berkinerja kelas dunia dimulai dengan mengubah diri sendiri. Wallahu a’lam bishshawab.

 


Kategori Artikel