ISPO Sawit Jati Diri Bangsa Indonesia

JAKARTAKetua Pelaksana 3rd International Conference and Expo on Indonesian Sustainable Palm Oil (ICE-ISPO), sekaligus Ketua Pengawas Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (GAPERINDO), Gamal Nasir berharap, setiap instansi atau lembaga pemerintah bisa  memiliki satu visi untuk memajukan kebijakan ISPO untuk kemajuan kelapa sawit Indonesia. “Jangan ada lagi pihak yang menjelek-jelekan ISPO, sebab ISPO adalah jati diri kelapa sawit Indonesia,” kata Gamal di Jakarta, Rabu (27/3/2019). 

Sementara itu Menteri Pertanian periode 2000 – 2005, Bungaran Saragih,  membenarkan bahwa Indonesia sudah sadar bahwa sustainability itu penting. Indikatornya adalah sertifikat ISPO dan dibuktikan, setiap tahunnya penerima sertifikat ini terus meningkat.

Dia juga mengakui, ada banyak macam dalam mendapatkan sertifikasi berkelanjutan. Di dunia internasional ada Rountable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Skim ini bersifat sukarela, tetapi menjadi penting. Saat ini Indonesia tercatat sebagai produsen utama minyak sawit berkelanjutan bersertifikat RSPO di dunia. Ini menjadi cerminan bahwa kelapa sawit bisa menerapkan aspek berkelanjutan dalam proses budidayanya.

Guna memperkuat komitmen berkelanjutan, pemerintah, kata Bungaran, berkomitmen untuk menerbitkan kebijakan ISPO. Aturan ini merujuk regulasi UU di dalam negeri.Hasilnya, saat ini perusahaan ataupun perkebunan rakyat telah mampu melakukan sertifikasi ISPO sebagai pembuktian bahwa perkebunan yang dikelola telah menerapkan sustainability.

“Sehingga sebenarnya ini kita sudah bisa memperoduksi CPO yang bersertifikat sustainable melebihi keinginan dari kebutuhan di negara Eropa yang menginginkan CPO yang sustainable. Jadi intinya, bukan masalah tidak masalah sustainability, tapi masalah persaingan,” terang Bungaran.

Meski begitu, Bungaran mengingatkan, yang terpenting adalah Indonesia sudah bisa melakukan apa yang mereka (negara di Eropa) butuhkan atau inginkan. “Kita tidak pernah mempermasalahkan RSPO ataupun ISPO karena keduanya mengutamakan prinsip sustanability. Saya berharap, sertifikat ISPO bisa lebih maju dari RSPO, sebab yang dibawa ke international itu adalah ISPO,” tandas Bungaran. (sumber:infosawit.com)


Kategori Artikel
Sub Kategori Berita