Industri Oleokimia Sawit Butuh Jaminan Pasokan Gas

JAKARTA – Ragam penggunaan produk oleokimia dapat menopang industri olekimia Indonesia untuk mengisi kebutuhan pasar domestik dan global.   Terbukti,  perusahaan olekimia terus bertambah sepanjang tiga tahun terakhir dari 16 perusahaan pada 2016 menjadi 21 perusahaan pada 2019. Akan tetapi, industri ini memerlukan sokongan pemerintah dari aspek regulasi antara lain penerapan dana pungutan sawit dan harga gas sesuai Peraturan Presiden No. 40/2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi.

Ketua Umum APOLIN, Rapolo Hutabarat menyebutkan, industri oleochemical lndonesia menunjukkan pertumbuhan yang positif baik dari sisi nilai investasi, volume dan nilai ekspor. Pada 2017, volume ekspor produk oleokimia sebesar 1,79 juta ton dengan nilai ekspor US$ 1,53 miliar. Selanjutnya, volume ekspor oleokimia naik menjadi 2,76 juta ton dengan nilai sebesar US$ 2,38  miliar.

Pada 2019, diperkirakan jumlah ekspor tumbuh menjadi 3,08 juta ton. Tetapi, nilai ekspor akan tergerus sekitar US$1,97 miliar. “Volume naik terus dari tahun ke tahun, tetapi nilai ekspornya memang turun akibat pengaruh pelemahan harga komoditas dunia,” ujar Rapolo katanya saat memberikan sambutan dalam acara diskusi.

Ditengah pelemahan harga komoditas, industri oleokimia memerlukan dukungan pemerintah melalui ketersediaan gas dan harga sesuai regulasi. Rapolo menjelaskan bahwa pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 40/2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi. Beleid ini mengatur harga gas bumi untuk sektor industri tertentu senilai US$6 per million british thermal unit (MMBtu). Sektor ini diantaranya oleokimia. Faktanya di lapangan, industri oleokimia membeli gas sebesar US$ 8-US$10 per MMBtU. “Kami harapkan jaminan pasokan gas dan kepastian harga gas sebagaimana diatur Perpres  tadi,” jelas Rapolo.(sumber:infosawit.com)


Kategori Artikel
Sub Kategori Berita