Kemitraan Tingkatkan Kesejahteraan Petani Sawit

JAKARTA - Keberadaan perusahaan perkebunan kelapa sawit, sejak pertama kali mulai dikembangkan secara komersil di Indonesia, sudah melakukan kemitraan dengan petani kelapa sawit. Pola kemitraan petani yang sudah berlangsung seperti, kemitraan plasma, kemitraan swadaya, kemitraan kredit perbankan, hingga kemitraan berbagai bentuk pembinaan.

Banyaknya pola kerjasama kemitraan petani dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit, bertujuan untuk bekerjasama membangun perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Sebab melalui kemitraan perusahaan dengan petani kelapa sawit inilah, produksi minyak sawit bagi dunia bisa selalu bertumbuh dan bertambah besar.

“Kemitraan perusahaan perkebunan dengan petani kelapa sawit, sudah dilakukan Sinarmas sejak awal membangun perkebunan kelapa sawit, termasuk perusahaan perkebunan, yang beroperasi di Provinsi Kalimantan Timur,” ungkap CEO Perkebunan Sinarmas III (PSM III), Suryanto.

Luasnya perkebunan kelapa sawit milik petani di Provinsi Kalimantan Timur, menurut Suryanto, merupakan bagian dari keinginan masyarakat sekitar yang ingin memiliki kebun sawit sendiri. Ketertarikan masyarakat itu, juga didukung Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, yang peduli terhadap kesejahteraan hidup masyarakatnya.

“Keinginan masyarakat sekitar untuk memiliki kebun sawit sangat besar, dengan dukungan dari Pemda, maka masyarakat bisa membangun perkebunan kelapa sawit didaerahnya,” ungkap Suryanto, lebih lanjut,”Peranan masyarakat tersebut, juga dilakukan secara swadaya melalui pembentukan koperasi di wilayahnya”.

 

Kemitraan Petani Plasma Swadaya

Modal awal kerjasama petani dengan perusahaan kelapa sawit menurut Suryanto, bisa dilakukan melalui wadah koperasi petani. Sebab itu, menurut Suryanto, dibutuhkan musyawarah warga terlebih dahulu, untuk bersama-sama membentuk koperasi di wilayahnya. Koperasi warga itulah, yang nantinya bisa bekerjasama dengan bentuk kemitraan petani dan perusahaan perkebunan kelapa sawit.

 

“Sampai sekarang, perusahaan Sinarmas yang bergerak di wilayah ini, sudah memiliki kerjasama kemitraan dengan petani plasma swadaya seluas 7.280 hektar,” kata Suryanto menjelaskan. Imbuhnya, kemitraan dengan petani plasma swadaya dilakukan dibeberapa kecamatan seperti Kecamatan Kongbeng, Kecamatan Muara Wahau, Kecamatan Telen dan Kecamatan Batu Ampar.

 

Kerjasama terluas dilakukan di wilayah Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur, dimana telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, lantaran sebagian besar masyarakat telah memiliki kebun sawit. Pembangunan kebun sawit milik petani swadaya di wilayah Kecamatan Kongbeng ini, sebagian besar dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.

 

Suryanto menceritakan, awalnya banyak warga Kecamatan Kongbeng yang telah membuka sendiri perkebunan kelapa sawit di lahan miliknya. Namun, banyak warga yang mengeluh dan tidak memiliki pengetahuan praktek budidaya menanam kelapa sawit. Alhasil, kebun sawit milik warga tidak bisa produktif, dan selalu meminta bantuan dari pihak lain, termasuk perusahaan.

“Supaya tidak menambah beban pekerjaan karyawan, maka manajemen perusahaan memutuskan untuk membuat organisasi khusus yang mengurusi kebutuhan para petani swadaya tersebut,” ujar Suryanto, lebih lanjut,”Saya meminta, supaya Manajer senior terbaik di perusahaan untuk memimpin organisasi, dengan bantuan asisten kebun yang juga terbaik”.

 

Melalui divisi khusus itulah, perusahaan mulai menelisik keberadaan para petani swadaya yang tersebar sporadis di wilayah tersebut. Berbagai persoalan yang terjadi dilapangan, mulai dipetakan dan dibahas perusahaan dengan memberikan solusi yang tepat sasaaran. Lantaran, setiap wilayah petani memiliki persoalan yang berbeda-beda.

 

“Perusahaan tidak mau sekedar membeli buah dari petani semata, melainkan mengajak supaya petani berkelompok dan bermitra dengan perusahaan,” ujar Suryanto menjelaskan, lebih lanjut,”Syarat utama bermitra yang dibutuhkan perusahaan adalah bukti kepemilikan lahan dan yang terpenting tidak berada di kawasan hutan”.

 

Pentingnya kemitraan perusahaan dengan petani kelapa sawit, menurut Suryanto, supaya pembangunan perkebunan kelapa sawit bisa berjalan seiring dengan berbagai kebutuhan yang ada di masyarakat. Jika semua kebutuhan masyarakat dapat selaras dengan pertumbuhan perkebunan kelapa sawit, maka kesejahteraan hidup bersama dapat terwujud. (sumber:infosawit.com)

 

 

 

 

 


Kategori Artikel
Sub Kategori Berita