Kendala Menuju Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan

JAKARTA -Awal Februari 2018 lalu, sebuah diskusi diadakan oleh Center for International Forestry Research (CIFOR) bersama Aliansi Sawit Indonesia (ASLI) dan Serikat Petani kelapa Sawit (SPKS) dan mengangkat berbagai permasalahan yang dihadapi dalam menerapkan praktik budidaya perkebunan kelapa sawit berkelanjutan.

Kendala-kendala itu ialah belum sesuainya pengelolaan perkebunan kelapa sawit berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP),  yang telah ditetapkan pemerintah Indonesia; para petani masih belum memiliki kompetensi dalam mengelola perkebunan kelapa sawit, sehingga hasilnya produktivitas sawit masih rendah lantaran kebanyakan petani merawat perkebunan kelapa sawit semampunya.

Dalam catatan CIFOR, salah lembaga penelitian kehutanan internasional, perkebunan sawit rakyat (swadaya) mencapai sekitar 4,7 – 5,6 juta hektar (ha), dan berperan penting dalam produksi dan ekspor dari Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan, petani swadaya dengan kepemilikan kurang dari 3 ha masih mengalami berbagai tantangan, antara lain, produktivitas yang rendah, legalitas lahan, akses pendanaan dan informasi.

Dilain pihak, pasar menuntut dan menghendaki produksi minyak sawit bebas dari praktik yang merusak hutan dan lingkungan. Ini dapat dilakukan, salah satunya, dengan penerapan skim praktik berkelanjutan versi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Sementara untuk bisa bersaing di pasar Uni Eropa, sertifikasi berkelanjutan versi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) menjadi salah satu faktor penentu.

Hingga saat ini petani masih menghadapi kendala dalam mendapatkan sertifikasi ISPO karena aspek legalitas kepemilikan lahan, keikutsertaan dalam organisasi kelembagaan masih rendah, dan kurangnya penerapan pedoman teknis budidaya. (sumber:infosawit.com)


Kategori Berita
Sub Kategori Artikel