Mendorong Kemandirian Pekebun Sawit

JAKARTA - Adalah petani kelapa sawit yang seringkali dikenal sebagai petani nasional yang kehidupannya dapat sejahtera dari mengelola lahan perkebunannya. Dibandingkan petani perkebunan lainnya, petani kelapa sawit, terbilang memiliki penghasilan yang umumnya lebih baik. Kendati, masih banyak pula, yang merasakan kegundahan hati, lantaran harga jual Tandan Buah Segar (TBS) masih terus melandai.

Adanya penghasilan dari berkebun kelapa sawit yang masih lumayan ini, tentu saja menjadi daya magnet bagi masyarakat lainnya, untuk turut bergabung mengembangkan budidaya perkebunan kelapa sawit. Bak gayung bersambut, bila ada perusahaan perkebunan kelapa sawit dibangun di daerah pelosok, maka di sekitarnya juga terjadi pembangunan kebun sawit milik masyarakat.

Awal tahun 2000an, banyak daerah pelosok yang mulai terbangun perkebunan kelapa sawit oleh perusahaan perkebunan, secara serentak, juga terbangun perkebunan kelapa sawit milik masyarakat. Keberadaan perkebunan kelapa sawit milik masyarakat luas ini, juga menjadi daya tarik kesekian, bagi investor industri untuk membangun Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tanpa kebun.

Legitnya keuntungan dari berbisnis minyak sawit, sudah dirasakan masyarakat Indonesia lebih dari 100 tahun lamanya, tepatnya sejak pengembangan perkebunan kelapa sawit nasional secara komersil. Sebab itu, pemberdayaan lahan sebagai sumber utama kehidupan rakyat, harus terus dijaga keberadaannya, melalui peningkatan kemampuan praktek budidaya petani.

Pasalnya, keberadaan bisnis perkebunan atau pertanian pada umumnya, sangat membutuhkan keberadaan lahan sebagai modal utama dalam pengembangannya. Terlebih, pengelolaan lahan juga membutuhkan sumber daya manusia yang juga mumpuni dalam melakukan praktek budidaya bercocok tanam sesuai dengan jenis tanah dan jenis tanamannya.

Keberadaan sebagian besar rakyat Indonesia yang masih serba terbatas kehidupannya di berbagai pelosok daerah, juga menjadi modal besar bagi negara untuk mengelola kekayaan alam yang dimiliki. Namun, dibutuhkan keberpihakan yang kuat dari pemerintah, untuk membantu masyarakat luas, dalam meningkatkan kemampuan bercocok tanamnya.

Sejatinya, kemandirian rakyat akan dengan sendirinya terbangun, apabila sebagian besar masyarakat sudah memiliki kemampuan praktik budidaya terbaik. Yang tentunya berguna untuk mengelola lahan garapannya menjadi tumpuan kesejahteraan hidupnya (sumber:infosawit.com)

 


Kategori Artikel
Sub Kategori Berita