Sawit Kini Menembus Batas Tradisi Hijau

JAKARTA - Dipenghujung tahun 2018 lalu industri kelapa sawit kembali memperoleh tudingan hitam dari lembaga swada masyarakat lingkungan internasional, ke salah satu perusahaan penghasil kelapa sawit asal Asia.

Sebelumnya, bahkan para anggota parlemen Uni Eropa telah sepakat untuk menghentikan penggunaan minyak sawit sebagai salah satu sumber energi terbarukan, alasannya lantaran kelapa sawit ditengarai dihasilkan dari merusak hutan. Tudingan demi tudiangan seolah mewarnai perjalan pengembangan perkebunan kelapa sawit selama tahun 2018 lalu, tidak sedikit bahkan masyarakat dunia khusunya di Uni Eropa yang masih memandang industri kelapa sawit masih dilakukan dengan pengelolaan yang serampangan tanpa mempedulikan lingkungan.

Benarkah demikian? Sebab faktanya perkebunan kelapa sawit telah dibudidayakan selama ratusan tahun silam, dan industri sawit faktanya telah menembus batas tradisi hijau yang selama ini dianggap mustahil. Iya, bisa jadi ditemukan penyelewengan pengelolaan yang dilakukan segelintir oknum, namun kesalahan budidaya tersebut tidak bisa merusak upaya perbaikan yang telah dilakukan. Misalnya saja, komitmen pemerintah Indonesia untuk memperkuat kebijakan budidaya kelapa sawit berkelanjutan terus dilakukan, lewat rencana peningkatan status regulasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), yang akan diatur dalam Peraturan Presiden.

Lantas, adanya komitmen para pelaku perkebunan kelapa sawit anggota lembaga nirlaba multi stakeholder Rountable on Sustainable Palm Oil (RSPO), yang telah sepakat akan menerapakan Prinsip dan Kriteria versi 2018, dimana ada beberapa point penting diantaranya tidak melakukan deforestasi dan tidak mengembangkan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut, selain memperbaiki tata kelola tenaga kerja di perkebunan.

Sebenarnya apa saja komitmen praktik berkelanjutuan yang telah disepakati pada P&C RSPO Versi 2018, pembaca bisa melihatnya di Rubrik Fokus kami kali ini. Masih pada Rubrik yang sama kami juga akan menampilkan upaya dan cara perbaikan tata kelola perkebunan kelapa sawit nasional. Munculnya kebijakan moratorium sawit dianggap sebagai momentum yang baik dalam upaya perbaikan, sehingga perkebunan kelapa sawit bisa lebih produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kami juga kali ini menampilkan artikel yang ditulis oleh Jonathon Porritt, sebagai seorang environmentalis yang melihat industri kelapa sawit menghadapi pemberitaan informasi yang kurang seimbang.

Mengacuhkan upaya perbaikan yang sedang berjalan dan tetap melakukan tindakan sabotase untuk menolak penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku makanan dan energy. Benarkah langkah yang diambil sebagian konsumen minyak sawit tersebut dengan memilih tidak menggunakan minyak sawit, ketimbang mendorong perbaikan pola budidaya yang ramah lingkungan? (sumber:infosawit.com)

 


Kategori Artikel
Sub Kategori Berita