Sawit penyelamat bumi

JAKARTA - Jika kita bisa bersepakat terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, tentu saja, kita juga bisa memulai untuk mengelola lahan daratan yang luas di Indonesia menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Kendati tidak harus tanaman kelapa sawit, namun, hanya membantu mengerucutkan pada satu tanaman komoditi terbesar yang dibutuhkan dunia.

Kenapa perkebunan kelapa sawit? Karena minyak sawit yang dihasilkan dari Tandan Buah Segar (TBS) yang dipanen perkebunan kelapa sawit merupakan cikal bakal keberadaan minyak sawit mentah (CPO) dan minyak kernel sawit mentah (CPKO), yang dapat digunakan sebagai bahan baku bagi tersedianya minyak makanan hingga minyak non makanan, sampai biodiesel dan bio energi.

Luasnya penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku bagi berbagai industri di dunia, menjadi penyebab utama dari pentingnya keberadaan minyak sawit bagi planet bumi. Jika, keberadaan minyak sawit mampu dihasilkan secara efektif dan efisien, maka produktivitas panen yang tinggi, juga akan membantu banyak negara menyelamatkan lahan daratan yang mereka miliki.

Lantaran, penggunaan lahan perkebunan kelapa sawit setiap hektarnya, dengan melakukan praktik budidaya terbaik dan berkelanjutan, mampu menghasilkan minyak sawit rata-rata sebesar 5 ton/hektar/tahun. Dibandingkan minyak soybean (kacang kedelai) yang hanya sebesar 0,5 ton/hektar/tahun, yang banyak diproduksi negara-negara Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Jika ingin menyelamatkan lahan daratan hutan yang luasnya berjuta-juta dikalikan lapangan sepak bola, maka sebaiknya lahan perkebunan kacang kedelai kembali dihutankan. Sehingga, paru-paru dunia dapat terselamatkan dari sumbangan hutan di banyak negara maju. Jangan, hanya mengandalkan paru-paru dunia di negara berkembang semata.

Terlebih bila menyoal keberadaan perkebunan kelapa sawit dunia yang totalnya hanya sekitar 20 juta hektar, dibandingkan luasan perkebunan kacang kedelai yang seluas 120 juta hektar. Tentu saja, jika posisi luasan disamakan seluas 25 juta hektar, maka perkebunan kelapa sawit masih bisa bertambah luasannya sebesar 5 juta hektar, sedangkan luas perkebunan kacang kedelai bisa menambah luasan hutan sebesar 95 juta hektar.

Artinya, ekosistem planet bumi akan lebih seimbang, lantaran paru-paru dunia tersedia hampir di seluruh dunia, terutama negara-negara maju yang daya pencemar air dan udaranya juga sangat besar. Melalui proses penghutanan kembali perkebunan kacang kedelai, maka berbagai tujuan mulia dari PBB hingga Lembaga Swadaya Masyarakat lingkungan dan sosial akan mudah tercapai. (sumber:infosawit.com)

 


Kategori Artikel
Sub Kategori Berita