Artikel


Meraih Produksi

Oleh : Hajad Dharmawan

The overall suitability of a soil as a medium for plan growth depends not only  upon the presence and quantity of chemical nutrients but also upon the state and mobility of water and air and upon the mechanical attributs of the soil and its thermal regine. In short, in addition to chemical fertility, the soil should posses a physical fertility, since both attributes are equally essential to overall soil productivity. In the oder side, an achievement in effort of the oil palm plantation is closely related to the level of production can reached that not only determined by soil as edaphic factor but also genetics potential of seed, age composition of plant, plant population, macro and micro climate, production management and social problem.

Keberhasilan perkebunan kelapa sawit erat hubungannya dengan tingkat produksiyang dapat diraih yang ditentukan oleh potensial genetis bahan tanaman, komposisi umur tanaman, populasi tegakan, faktor edafik (tanah), iklim makro dan mikro, manajemen produksi (kultur teknis) dan masalah sosial yang berkaitan dengan aktivitas manusia di masa lalu dan sekarang.

Sering tidak disadari bahwa lahan perkebunan saat ini didominasi tanah posolikkuning fraksi liat tinggi atau Tipic Paleudult (ordo Ultisol, Soil Survey Staff 1995 USDA) yang merupakan lahan kelas S3 (marginally suitable = agak sesuai) dengan satu faktor pembatas ringan yaitu kedalaman efektif dan dua faktor pembatas sedang yaitu bentuk wilayah  dan kemasaman tanah.

Tanah jenis ini memiliki tingkat kesuburan yang rendah dan memerlukan perbaikan kesuburan fisik, kimia dan biologi untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman yang optimal hingga menjadi lahan berpotensi produksi kelas II atau kelas I.

Para praaktisi perkebunan selalu beranggapan bahwa produksi yang tinggi pasti akan diraih jika ada hujan dan aplikasi pupuk telah dilakukan sementara mengabaikan faktor kesuburan fisik tanah. Hasilnya meskipun pemupukan terus dilakukan namaun cenderung tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan produksi (leveling off). 

Fenomena ini dapat terjadi karena pada dasarnya tanah Ultisol memiliki kesuburan fisik dan kimia yang rendah untuk mendukung produktivitas tanaman seperti yang diharapkan, atau dapat juga disebabkan tanah tersebut telah mengalami suatu kondisi yang disebut 'lelah' (fatigue) akibat terus menerus dieksplotasi tanpa ditindaklanjuti dengan upaya untuk meremajakan tanah yang telah lelah tersebut.

Perlu diingat bahwa banyaknya unsur hara di dalam tanah tidak selamanya menjamin tanaman dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi. Unsur hara tersebut bisa saja banyak tetapi tidak tersedia bagi tanaman karena terikat dengan asam-asam seperti Al dan Fe yang banyak terdapat pada tanah dengan pH yang rendah seperti Ultisol.

Sementara itu unsur hara yang diberikan melalui pemupukan sedikit yang diambil oleh tanaman karena telah lebih dahulu menguap, tercuci karena sifat fisik tanah yang jelek atau akibat pemupukan tidak dilaksanakan sesuai prinsip 5 T (tepat jenis, dosis, cara, waktu dan sasaran).

Para praktisi perkebunan juga sering mengabaikan bahwa aktivitas pada lahan perkebunan yang terus menerus terjadi baik oleh alam seperti pukulan air hujan, injakan hewan ternak dan manusia maupun tindakan mekanis selama siklus ekonomis pengusahaan tanaman kelapa sawit, memberikan andil terjadinya pengerasan permukaan tanah (surface crusting), peningkatan bulk density, penurunan kapasitas infiltrasi. premeabilitas tanah rendah, run off tinggi yang berdampak terjadinya pencucian unsur hara pada lapisan top soil, kemasaman tanah meningkat, bahan organik menurun, mikroorganisma tanah berkurang, yang pada akhirnya menyebabkan tanah menjadi tidak subur dan dampaknya terhadap tanaman adalah plant performance yang jelek.

Karenanya, untuk kondisi seperti ini pengolahan tanah (tillage) saat replanting merupakan pilihan yang tepat apalagi diiringi dengan melakukan koservasi tanah dan air serta ameliorasi tanah dengan bahan organik.

Begitupun, tinggi rendahnya capaian produksi secara menyeluruh tidak sematamata akibat faktor edafik ataupun faktor iklim berupa cekaman kekeringan (drought stess), manajemen produksi yang meluputi panen, transportasi, pemupukan dan pemeliharaan, persentase tanaman renta dan tua, serangan hama dan penyakit, pencurian produksi, prestase pemanen dan prestasi kehadiran pemanen yang hubungannya dapat dikaji dengan analisis regresi, namun yang tidak kalah pentingnya dalam upaya meraih keberhasilan pengusahaan perkebunan kelapa sawit dengan produksi yang optimal adalah jika dikelola oleh sumberdaya manusia yang berkualitas yang memaknai visi dan misi perusahaan sebagai 'ruh' dalam berprilaku dan bekerja. 


Kategori Artikel