KIAT SUKSES MENCAPAI VISI ‘ 35 – 26 ‘ INDUSTRI KELAPA SAWIT INDONESIA

Oleh : Khairiah

Pendahuluan
 
Produksi yang dihasilkan oleh suatu tanaman merupakan hasil interaksi antara faktor internal ( genetik, fisiologis, anatomi, dll ) dengan faktor lingkungan dimana tanaman tersebut tumbuh dan berkembang. Input manajemen  dan teknologi yang diaplikasikan akan mengoptimalkan produktivitas tanaman, meningkatkan efisiensi dengan tetap memperhatikan faktor-faktor kelestarian dan keseimbangan alam. Integrasi antara komponen tanaman, manajemen kultur teknis dan pengolahan hasil yang efisien akan menghasilkan pencapaian produksi yang tinggi. Bahan tanaman unggul diperoleh dari hasil persilangan TETUA yang memiliki sifat genetik unggul untuk mencapai produksi yang tinggi. Potensi produksi bahan tanaman akan dicapai jika diterapkan kultur teknis yang baik mulai dari persiapan lahan, pemeliharaan tanaman, proses panen produksi dan pengolahan hasil yang efisien. Integrasi diantara proses pemupukan yang benar, pengendalian hama & penyakit secara terpadu, system panen yang baik, efisiensi dalam proses pengolahan merupakan factor – factor yang sangat penting dalam mencapai produksi yang tinggi.Sumber daya manusia yang memiliki integritas tinggi serta penerapan system sertifikasi akan semakin menunjang proses untuk mencapai sasaran produksi tinggi.
 
Formulasi 35 – 26 merupakan visi yang dicanangkan pada peringatan 100 tahun perkebunan kelapa sawit di Indonesia, dimaksudkan sebagai hasil  kinerja perusahaan industri kelapa sawit dengan pencapaian produktivitas TBS sebesar 35 ton per hektar     per tahun dan rendemen CPO 26 %. Sumber Daya Manusia ( SDM ) merupakan salah satu faktor penting dalam mencapai produktivitas 35 – 26. Peningkatan produktivitas melalui penerapan sistem Best Management Practices(BMP) maupun Good Manafacture Practices (GMP) akan berjalan baik jika dilaksanakan dengan pengelolaan SDM yang benar dan tepat. Sistem ini mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat menciptakan kondisi yang kondusif bagi pekerja maupun pemilik usaha. Optimasi rendemen CPO dapat dicapai dengan sinergi BMP dan GMP. Karena minyak diproduksi secara alami di kebun maka BMP menjadi keharusan untuk mencapai rendemen yang tinggi. Pabrik kelapa sawit berfungsi mengekstraksi minyak sehingga parameter losses menjadi tolok ukur monitoring utama dalam GMP agar dicapai rendemen yang tinggiTitik temu antara kegiatan kebun  pabrik ini adalah tandan buah segar (TBS) dan selalu menjadi krusial untuk mensinergikannya.
 
Faktor-faktor produksi minyak dikebun dioptimalisasi melalui BMP yang terkait dengan bahan tanaman Legitim, kultur teknis, pengelolaan sumber daya lahan & tanaman yang optimal dan pengadaptasian terhadap iklim yang baik
 
FAKTOR PRODUKSI
Untuk budidaya kelapa sawit, faktor-faktor utama yang menopang pencapaian produksi tinggi adalah sebagai berikut :
A.     Bahan tanaman unggul
Kontribusi biaya bahan tanaman terhadap total biaya program penanaman baru umumnya relati kecil (sekitar 5 %), tetapi dampaknya sangat besar terhadap keberhasilan budidaya kelapa sawit untuk satu siklus hidupnya (rerata 25 tahun).Penggunaan bahan tanaman unggul yang berasal dari proses seleksi perkawinan TETUA terbaik yang memiliki potensi produksi tinggi dan mampu bertahan terhadap tekanan BIOTIK dan ABIOTIK merupakan suatu keharusan. Kontribusi produksi yang tinggi akan mempercepat pengembalian investasi dan memberikan keuntungan yang berkelanjutan untuk jangka panjang.
 
Persyaratan bahan tanaman unggul yang dikehendaki :
-       Rerata produksi TBS > 35 ton/ ha/ thn dengan potensi TBS 40 ton / ha/ thn
-       Rerata produksi CPO > 9 ton/ ha/ thn
-       Cepat berbuah dan potensial berproduksi tinggi
-       Daya adaptasi terhadap tekanan Biotik & Abiotik
-       Laju pertumbuhan lambat
-       Pertumbuhan tanaman seragam.
 
B.     Kesesuaian Lahan
Alam merupakan faktor poduksi yang tidak dapat dirubah. Jenis tanah, ketinggian tempat, curah hujan, temperatur, lama penyinaran matahari sangat berpengaruh terhadap proses tumbuh, berkembang dan berproduksinya suatu tanaman. Untuk mengubah proses alam pada aplikasi kultur teknis dan teknologi pada budidaya perkebunan khususnya kelapa sawit memerlukan biaya yang sangat mahal, dan hasilnyapun belum tentu sebanding dengan peningkatan kualitas dan produktivitas yang diharapkan. Pendekatan terbaik adalah penerapan manajemen kultur teknis yang disesuaikan dengan kondisi alam setempat antara lain dalam hal pemilihan bibit unggul, teknik aplikasi pemupukan, manajemen air, dll, sehingga dapat menghasilkan produktivitas tanaman yang tinggi dan ramah lingkungan.
 
Persyaratan lahan yang diinginkan :
-    Temperatur rerata tahunan         :    25 – 28  C
-       Bulan kering                                :    < 2 bulan
-       Curah hujan /tahun                     :    2000 – 3000 mm
-       Drainase                                      :    sedang – baik
-       Tekstur                                        :    SL, L, SCL, SiL, Si, CL, SiCL
-       Kedalaman efektif                      :    > 100 cm
-       KTK                                                sedang  ( 17 – 24 me/100 gr )
-       pH                                               :    5,0 – 6,0
-       Salinitas                                       :    < 2
-       Kedalaman sulfidik                     :    > 125
-       Hara tersedia                              :    Total N, P2O5, K2O > sedang
-       Lereng                                         :    < 8 %
-       Batuan permukaan                     :    < 3%,erosi sangat rendah, tidak pernah banjir
-       Solar radiation                             :    13 – 15 MJ/m2
 
C.     Aplikasi kultur teknis yang prima sejak start
Bisnis kelapa sawit identik dengan perlombaan lari jarak pendek, sang juara adalah seseorang yang memiliki kondisi paling prima sejak start sampai finish yang                      dikombinasikan dengan kemampuan teknik yang tinggi. Teknik start yang baik seringkali menjadi penentu dalam hasil akhir. Penerapan manajemen kultur teknis yang baik dan pemilihan teknologi yang sesuai sudah terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanaman kelapa sawit. Tingginya permintaan terhadap minyak sawit disertai dengan semakin kuatnya tekanan dan kampanye negative terutama masalah deforestasi, dapat dijembatani dengan manajemen budidaya yang baik dan pemilihan teknologi yang tepat. Budidaya kelapa sawit harus mampu memenuhi tekanan finansial, sosial dan lingkungan sehingga menciptakan budidaya kelapa yang berkelanjutan.
 
Beberapa point penting dalam manajemen kultur teknis yang harus di perhatikan yaitu :
  1. Pembibitan
Keberhasilan untuk mencapai produksi tinggi harus dimulai dari pembibitan yang baik dan benar sehingga menghasilkan bahan tanaman yang siap berkembang dan berproduksi sesuai dengan potensinya.
Persiapan media tumbuh masa pre nursery dimana bibit masih rentan terhadap tekanan factor lingkungan, harus dilakukan dengan baik: tanah harus gembur, cukup memiliki bahan organik (20-30%) dan berpasir (10%). Kegagalan dimasa    pre nursery yang menyebabkan bibit gagal tumbuh umumnya disebabkan oleh penyediaan media tanah yang tidak sesuai, misalnya tanah terlalu padat, tanah terlalu masam (gambut), terlambat pemindahan ke pembibitan utama, kurang penyiraman, kurang pemupukan, tenaga kerja yang kurang terampil.
 
2. Persiapan Lahan
Persiapan lahan yang baik adalah persiapan lahan yang mampu memberikan tempat yang baik bagi setiap bibit untuk tumbuh dan berkembang. Penumbangan tanaman tua dan pembongkaran “ bold tissue “ harus dilakukan dengan bersih sehingga tidak meninggalkan sisa tanaman yang akan menjadi sumber infeksi bagi tanaman yang baru ditanam. Pemberantasan gulma dapat dilakukan secara kimia ataupun mekanis, keduanya harus mampu memutus siklus hidup gulma sehingga tidak menjadi pesaing baru bagi tanaman utamanya. Penerapan konservasi tanah pada daerah lereng sedang dan curam serta penanaman kacangan  penutup tanah           (Mucuna brachteata) harus dilakukan sesuai kaidah – kaidah konservasi tanah dan air sehingga proses persiapan lahan tidak menyebabkan terjadinya degradasi tanah akibat erosi dan penggunaan alat berat. Manajemen air harus dikelola sejak proses persiapan lahan dilaksanakan. Perencanaan dan desain pembuatan saluran drainase dan pintu air harus dilakukan dengan baik sehingga air tetap tersedia bagi tanaman pada musim kemarau dan tidak terjadi genangan air pada musim hujan. Tanaman kelapa sawit memerlukan air yang cukup dan tersedia sepanjang tahun. Dengan pengelolaan air yang baik, maka fluktuasi produksi musim kemarau dan             musim penghujan dapat deleminasi.
 
 3. Pemeliharaan Tanaman
Laju pertumbuhan vegetatif tanaman maksimum terjadi pada masa TBM sampai terjadinya overlapping canopy (6-7 tahun). Sesudah masa tersebut, ratio laju pertumbuhan vegetatimenurun dan pertumbuhan generatif meningkat.            Sistem pemeliharaan tanaman yang diterapkan harus di sesuaikan dengan kondisi tersebut. Pemeliharaan pada masa TBM harus mampu menunjang laju pertumbuhan vegetatif maksimum dengan mengendalikan semua hal yang dapat mengganggu laju pertumbuhan tanaman. Pengendalian gulma di piringan pokok, gawangan dan pengendalian hama, aplikasi pemupukan dan kastrasi/sanitasi adalah             langkah - langkah yang dilakukan untuk menunjang laju pertumbuhan vegetatif dan peningkatan produksi (generatif).
 
 
4. Pengendalian Hama dan Penyakit
Sistem pengendalian hama terpadu adalah suatu sistem pengendalian hama dengan menerapkan kaidah – kaidah kelestarian dan keseimbangan ekosistem alam. Prinsip dasar pengendalian hama terpadu adalah :
   menjaga populasi hama di bawah ambang batas,
   mengutamakan pengendalian hama dengan system biologis
   jika harus menggunakan bahan kimia, maka dipilih bahan kimia yang memiliki efek samping sekecil mungkin terhadap predator hama serta organisme yang bermanfaat bagi lingkungan.
 
Penyakit Ganoderma merupakan penyakit yang paling umum dijumpai dalam budidaya kelapa sawit di Indonesia dan semenanjung Malaysia. Khususnya           di Sumatera Utara yang sudah memasuki tanaman generasi ke empat, infeksi Ganoderma sudah mencapai 80% di akhir tanaman generasi ke tiga.Insiden penyakit semakin meningkat pada saat dilakukan replanting secara berturut – turut karena perkembangan inoculum yang berkelanjutan.
Pengendalian penyakit Ganoderma secara terpadu dilakukan denganbeberapa tahap yaitu:
-       Sanitasi
-       Biological control
-       Chemical control
-       Genetic control
 
Pengendalian ganoderma melalui genetic control dilakukan dengan pemuliaan progeny pada ketahanan terhadap infeksi ganoderma. Keberhasilan program ini akan menjadi kemajuan besar dan merupakan senjata ampuh untuk mengatasi serangan penyakit ganoderma saat ini. Genetic control memiliki kemampuan untuk membedakan dengan cepat sumber kerentanan terhadap penyakit pada tahap pembibitan melalui inoculasi pathogen.keuntungan yang di peroleh adalah :
o   Dapat mengurangi waktu dan sumber daya yang diperlukan untuk perbanyakan variasi genetic.
o   Memungkinkan untuk mengembangkan strategi penanda molekuler yang lebih cepat.
Dengan diperolehnya informasi mengenai sifat ketahanan genetik terhadap serangan ganoderma, untuk jangka panjang merupakan pendekatan terbaik guna mengkontrol serangan ganoderma terutama di areal yang sudah merupakan sumber perkembangan penyakit.
 
5. Pemupukan
Pupuk merupakan komponen penting di dalam budidaya kelapa sawit, karena dua hal yaitu :
- Biaya pupuk merupakan komponen terbesar dari biaya operasional, 60 – 70% dari biaya tanaman menghasilkan dan sekitar 40% dari biaya tanaman belum menghasilkan
- 70 sampai dengan 80% dari unsur pupuk yang ada pada biomassa berada pada bagian yang di panen yaitu  buah dan cabang, sehingga perlu dilakukan substitusi untuk menggantikan unsur hara yang terikut pada proses panen.
 
Dengan mempertimbangkan kedua hal diatas maka diperlukan pengelolaan pupuk yang baik agar pupuk yang diaplikasikan benar benar efektif danefisien oleh tanaman. Lima kunci utama strategi pemupukan untuk mencapai efektifitas dan efisiensi pemupukan yang tinggi adalah prinsip “5 T “ yaitu: Tepat jenis,        Tepat dosis, Tepat letak/ tempat, Tepat cara  dan Tepat waktu.
 
     - Tepat jenis : pupuk yang diaplikasikan harus  sesuai dengan kebutuhan pada stadia pertumbuhannya, sesuai dengan jenis tanah , topografi, curah hujan, ketersediaan tenaga kerja dan sebagainya.pemilihan jenis pupuk tunggal atau pupuk majemuk serta berbagai komposisi pupuk majemuk merupakan pilihan yang harus diambil dalam kunci tepat jenis.
 
     - Tepat dosis : merupakan keputusan terbaik yang harus diambil terhadap beberapa dosis pupuk yang tepat untuk diperoleh produksi yang tinggi, sehingga jumlah yang diaplikasikan benar benar berada pada batas keperluan tanaman.umur tanaman, status unsur hara di dalam daun/rachis, keseimbangan diantara unsur hara (N/P balance , Cation balance ), produksi dan gejala visual dilapangan merupakan beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam penentuan dosis yang tepat.
 
     - Tepat letak/tempat : adalah penentuan dimana tempat yang paling sesuai pupuk diaplikasikan sehingga mampu diserap tanaman dalam jumlah yang tinggi.sistem perakaran, ketersediaan bahan organiktanah, kondisi  lahan merupakan faktor-faktor yang menjadi pertimbangan.
 
     - Tepat cara : adalah pemilihan cara terbaik agar pupuk tersedia bagi tanaman pada saat diperlukan secara bersamaan. Luas areal dan waktu pemupukan, jumlah pupuk yang harus diaplikasikankondisi lahan serta ketersediaan tenaga kerja atau alat yang akan digunakan merupakan faktor yang menjadi pertimbangan berbagai cara aplikasi pupuk.
 
     - Tepat waktu : kondisi iklim terutama curah hujan merupakan factor yang paling diperhatikan dalam memilih waktu yang tepat untuk aplikasi pupuk, disesuaikan dengan jenis pupuk yang akan diaplikasikan. Serapan pupuk oleh akar tanaman akan lebih efektif dan efisien pada saat tanah dalam kondisi lembab. Tanah yang terlalu basah akan menyebabkan kehilangan pupuk akibat pencucian atau kehilangan bersama aliran permukaan atau perkolasi.
 
6. Panen
Manajemen panen bertujuan meraih produksi semaksimal mungkin dan menekan kerugian sekecil mungkin dengan menerapkan syarat syarat dan ketentuan panen yang baik. Manajemen panen yang baik harus memperhatikan beberapa aspek yaitu:                                                                                                                         
1.    SDM yang terampil : rekruitmen  melalui seleksi bertahap dengan kriteria terampilmotivasi, disiplin dan kesehatan  yang baik
2.    Sarana panen yang memadai : alat panen yang baik, piringan pokok, pasar pikul yang memudahkan pemanen memanen dan mengeluarkan hasil produksinya.
3.    Insentif yang menarik : sistem premi yang menarik.
4.    Organisasi panen : perencanaan panen melalui taksasi buah masak yanag akan dipanen, sistem pengaturan ancak, pemeriksaan hasil panen baik mutu maupun jumlahnya serta pengaturan transport produksi sampai ke pabrik.
 
7. Sumber Daya Manusia
 
Sumber daya manusia merupakan salah satu kunci utama keberhasilan untuk mencapai peraihan produksi yang tinggi. Tanpa SDM yang memadai maka target produksi hanya akan menjadi simbol impian semata, sehingga diperlukan pekerja yang memiliki integritas tinggi yakni :
a.    disiplin yang tinggi
b.    gigih, tekun, ulet dan konsisten dalam mencapai tujuan
c.    fokus pada target
d.    memiliki antusiasme untuk meningkatkan kemampuan diri secara berkelanjutan
e.    jujur, mampu mengakses informasi yang berkelanjutan.
 
D. Sosial Masyarakat
Salah satu aspek dari pembangunan kebun kelapa sawit yang berkelanjutan adalah terciptanya keselarasan antara pihak perkebunan dengan  masyarakat sekitarnya sehingga menciptakan hubungan simbiosis mutualistik, yakni dapat memberikan manfaat kedua belah pihak. Adanya aktifitas perkebunan di suatu daerah akan menciptakan klaster-klaster ekonomi baru yang dapat meningkatkan status ekonomi masyarakat sekitar dan mengurangi kesenjangan sosial. Munculnya ketimpangan ekonomi antara masyarakat sekitar dengan masyarakat perkebunan akan menciptakan gejolak sosial yang pada akhirnya akan mengganggu kelancaran roda usaha perkebunan yang  berakibat pada penurunan produktivitas.
 
E.   Efisiensi Pengolahan Hasil
Untuk mencapai produksi CPO yang tinggi, selain bahan baku yang baik juga diperlukan efisiensi pengolahan hasil  sehingga kehilangan minyak dalam proses pengolahan berada pada batas batas anggaran. Integrasi yang baik dimulai dari transpor produksi, loading rampsterilizerdigesterscrew press, dan klarifikasi akan meningkatkan efisiensi pengolahan, sehingga menjadi salah satu faktor penting untuk mencapai produksi CPO yang tinggi.
 
Penutup
Dengan menerapkan tahapan tahapan tersebut diatas secara berintegrasi, konsisten dan berkelanjutan akan menghasilkan momentum pencapaian produksi yang tinggi….
 
OUTPUT YANG LUAR BIASA AKAN DIPEROLEH APABILA INPUT YANG DIBERIKAN JUGA              LUAR BIASA……..

 


Kategori Artikel