Semangat Perubahan

Oleh : M. Arifin Siregar

 

Kata “Perubahan” bagaikan magic word yang berhasil mengantarkan Bill Clinton sebagai Presiden Amerika Serikat pada tahun 1992. Ia selalu menyampaikan pesan – pesan komunikasi
yang berbunyi “change!”. Bahkan ia terpilih sebagai presiden selama 2 periode.
Tidak jauh berbeda, pada tahun 2004, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai presiden Republik Indonesia berkat tema yang sama, yakni “Perubahan!”
Saat ini, kombinasi kata itu masih dipakai oleh salah satu organisasi masyarakat yang belakangan mendeklarasikan diri sebagai partai politik, gaungnya adalah “Gerakan Perubahan”.
Begitu hebatnya kata tersebut, sehingga dapat memberikan daya tarik yang sangat kuat. Mereka yang berhasil membuat perubahan sering disebut sebagai change maker atau cracker.
Perubahan merupakan transformasi dari keadaan sekarang (current state) menuju future state atau keadaan yang diharapkan di masa yang akan datang, tentunya keadaan yang lebih baik.
Menurut Prof. Rhenald Kasali, Ph.D pada bukunya berjudul “Change!”, dalam setiap perubahan selalu ada dua pihak, yaitu mereka yang menganut asas “seeing is believing” dan “believing is seeing”Seeing is believing dapat diartikan sebagai “Saya perlu melihat sebelum percaya”. Bebeda dengan believing is seeing, yang bermakna “Karena saya percaya maka saya akan melihat”.
Dalam implementasinya change makers selalu melalui debottlenecking. Padahal seharusnya semangat ini didukung oleh semua pihak. Perubahan mengandung arti yang sangat penting bagi kemajuan pribadi, organisasi, instansi ataupun perusahaan. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, jika kaum itu tidak mengubahnya sendiri.” [Q.S. ar-Ra'd 13:11]
3 Kata terlarang dalam perubahan
Salah satu hambatan dari perubahan adalah selalu muncul kata perbandingan yang mengarah kepada cara atau metode masa lalu, seperti kalimat yang di awali kata “saya dulu..”. Kata sederhana ini dapat memudarkan semangat perubahan. Magic word tersebut diartikan sebagai “cara berpikir kemarin” yang masih dipakai untuk “memecahkan masalah  sekarang”. Padahal Albert Einstein pernah mengingatkan:
We can not solve problem by using the same kind of thinking we used when we created them”
The 2nd forbidden word adalah “saya sudah tahu” (I know). Kata ini dapat menjadi penghalang perubahan, karena tersirat makna bahwa belum ada keinginan untuk mempelajari hal baru dan berusaha untuk tidak menciptakan perubahan. Analogi sederhana, ketika sedang menghadiri seminar atau workshop, seseorang bersikap tahu segalanya, maka ia tidak akan pernah belajar sesuatu dan tidak mendapatkan ilmu baru.
 
Untuk kata terlarang ketiga akan dibahas pada buletin NusaSatu edisi berikutnya. Kata kuncinya adalah “usia = kemampuan”.
 
Semangat Perubahan PT Perkebunan Nusantara I (Persero)
Sebagaimana filosofi perusahaan “Perubahan merupakan kebutuhan untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah perusahaan”, maka terlihat jelas bahwa perusahaan membutuhkan peran cracker sebagaiactor perubahan untuk mencapai visinya, yakni daya saing yang kuat (tangguh) dan peningkatan nilai tambah sehingga dapat memberikan kesejahteraan bagi stakeholder dan kontribusi kepada Negara.
Daya saing dan nilai tambah dapat dicapai dengan semangat perubahan, melalui pola pikir yang berorientasi pada proses, bukan hanya pada hasil. Karena hasil baik pada periode sekarang yang dicapai melalui proses yang tidak standar akan mengorbankan hasil pada periode berikutnya. Hal ini akan berlanjut dan menjadi cyclingyang tidak sehat.
Drs. Akmaluddin Hasibuan, MSc dalam bukunya, “Manajemen Perubahan : Membalik Arah Menuju Usaha Perkebunan yang Tangguh melalui Strategi Optimalisasi Efisiensi” mengatakan bahwa dalam membangun semangat perubahan ada beberapa hal yang menjadi perhatian:
-       Karakter business as usual yang menyebabkan tidak ada upaya terobosan menuju kinerja excellent
-       Orientasi yang bersifat cost oriented, bukan productivity orienteddalam beroperasi menghasilkan output
-       Berpikir mutually exclusive, bukan all inclusive dalam membangun kerjasama tim
Selain itu, masih terdapat kekeliruan dalam mendefinisikan makna efisiensi demi tercapainya arah dan tujuan organisasi. Efisiensi sering dimaknai sebagai tindakan meminimalkan biaya investasi dan eksploitasi untuk memaksimalkan laba, dengan mengabaikan norma dan standar. Selanjutnya harus ada percepatan pembaruan organisasi dengan membalik arah (turn arround) perusahaan melalui kinerjaexcellent, melalui pemahaman efisiensi secara utuh dalam mengarahkan kebijakan investasi dan eksploitasi, sehingga perusahaan benar-benar dapat mengoptimalkan potensi dan kemampuan mengeksploitasi sumber daya dalam menghasilkan outputyang optimal dan berkelanjutan untuk membangun perusahaan perkebunan yang tangguh dalam menghadapi persaingan global.
 
Semangat perubahan PT Perkebunan Nusantara I (Persero) dapat dilihat dengan adanya program penanaman ulang (replanting) di tahun 2012 seluas 2.478 ha. Program ini ternyata sudah dimulai sejak tahun 2000. Total areal replanting tahun 2000 – 2011 adalah seluas 11.310 ha. Disisi lain, semangat ini juga dibangun melalui pelaksanaan SMKi, K3, Corporate Social Responsibility (CSR), program peumakmu gampong, Kerja Sama Operasional (KSO), pembentukan anak perusahaan, sawit-sapi (SaSa), penerapan manajemen risiko dan Good Corporate Governance (GCG) serta pembuatan Master Plan Teknologi Informasi (MTI) dalam persiapan pembentukan holding BUMN perkebunan.

Kategori Artikel