Sejak 2015, Program B20 Hemat Devisa Rp 51,5 Triliun

JAKARTA - Pemerintah mendapatkan nilai tambah besar dari pengunaan biodiesel campuran 20% atau B20 semenjak Agustus 2015. Penggunaan biodiesel memberikan manfaat dari aspek ekonomi sampai kepada lingkungan.

Berdasarkan data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), mandatori biodiesel  mampu menghemat devisa karena tidak perlu impor solar hingga Rp 51,5 trilliun. Selain itu, telah berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 13,6 juta ton CO2e, meningkatkan demand terhadap CPO, penggunaan biodiesesl dari sawit sebesar 9,12 juta KL, pajak yang dibayarkan kepada negara Rp 2,47 trilliun

Hal tersebut disampaikan dua narasumber Temu Netizen Kementerian ESDM ke-13 di Medan, Muhammad Rizwi Jinalisaf Hisjam, Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Kementerian ESDM, dan Muhammad Ferrian, Kepala Pengembangan Biodisel BPDP KS di Temu Netizen pekan kemarin (2/7).

Secara rinci Rizwi menyebut dalam pengimplementasian B20 justru memberikan manfaat dari sisi performa kendaraan. “Manfaat dari B20 secara bahan bakar performanya lebih bagus. Secara kelemahan, nilai kalornya dari BBN ini lebih rendah dari BBM, tapi secara performance bahan bakar lebih bagus. Secara umum, benefitnya lebih banyak”, ungkap Rizwi.

Setelah B20, Pemerintah pun serius mengembangkan B30. Riswi menyampaikan bahwa baru-baru ini ini Pemerintah melaunching road test B30 dengan memberangkatkan 3 unit truk dan 8 unit kendaraan penumpang berbahan bakar B30 yang masing-masing akan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer. Hal ini sebagai bagian promosi ke masyarakat bahwa B30 memiliki performa yang baik dan ramah lingkungan.

“Kenapa kita mau mengembangkan terus B30 hingga ke B100? B100 ini kedepannya bukan artinya seluruhnya B100 dari BBN, tapi bahan bakunya menjadi bahan baku refinery. Jadi solar dicampurnya langsung di bahan bakunya. B20, B30 itu campuran 2 produk akhir yaitu FAME dicampur BBM Solar. Kalau B100 bahan bakunya yang dicampur dengan crude oil di proses di refinery, dan sudah ada campuran BBN disitu,” papar Rizwi.

Ferrian menambahkan proses pemanfaatan CPO untuk biodiesel ini. “CPO dari bahan baku kelapa sawit, Bahan Bakar Nabatinya itu bahan bakunya CPO kemudian diproses lebih lanjut (transeksterifikasi) menjadi komponen Faty Acid Metil Ester (FAME). FAME ini punya sulfurnya sangat rendah, bahkan tidak ada. Padahal kalau menghilangkan sulfur di minyak bumi perlu proses teknologi yang tinggi. Kalau BBN sulfurnya bisa dikatakan 0%, sehingga lebih ramah lingkungan,” pungkas Ferrian.

 

Sumber : https://sawitindonesia.com/sejak-2015-program-b20-hemat-devisa-rp-515-triliun/

 


Kategori Artikel