PTPN VII Bangun Musala di Desa Terdampak Tsunami

KALIANDA ---Pasca bencana tsunami di Pesisir Lampung Selatan, 22 Desember 2018, PTPN VII sebagai kordinator tanggap bencana Kementerian BUMN telah menyalurkan bantuan Rp2 miliar lebih.

Meskipun kondisi masyarakat yang terdampak bencana telah berkativitas normal, beberapa BUMN masih berkomitmen membantu masyarakat untuk pemulihan pascabencana.

Salah satunya pembangunan musala dan instalasi air bersih di Desa Kunjir dan pembangunan kamar mandi umum dan sarana air bersih di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

“Ya, hari ini kami datang lagi ke lokasi bencana ini untuk peletakan batu pertama pembangunan musala, instalasi air bersih, dan fasilitas lainnya. Ini adalah komitmen kami untuk memberi perhatian kepada para korban pasca tsunami.

Kami hadir bersama beberapa BUMN lain yang membantu diantaranya PT INKA, PT Kawasan Industri, PT Surveyor Indonesia, PT Virama Karya, PTPN I, PT Airnav Indonesia, dan PT. PPI Lampung, dan pelaksanaannya dikerjakan sukarela oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia (FKMTSI),” kata Ahmad Sudarto, Direktur Komersil PTPN VII di Desa Kunjir, Jumat (26/7/19).

Sudarto menambahkan, musala semi permanen yang dibangun berada di tengah lokasi hunian sementara korban bencana. Sedangkan instalasi air bersih diambil dari mata air Gunung Rajabasa, lalu disalurkan dengan pipa besi dan paralon sepanjang sekitar satu kilo meter.

Seremoni sederhana di halaman SMPN I Kunjir itu dihadiri Camat Rajabasa Saptudin, Kepala Desa M. Nur, Manajer PT Perdagangan Indonesia Cabang Lampung Andy Nugroho, Kacab PT Air Nav Lampung Jefri Bagus Bahtiar, Kepala Jurusan Teknologi FT. Itera Rahayu Sulistiorini, dan ratusan mahasiswa Fakultas Teknik dari seluruh Indonesia.

Ketua Pelaksana dari FKMTSI Ainur Rofiq dalam laporannya mengatakan, para mahasiswa Teknik Sipil yang akan terlibat dalam pembangunan ini adalah para relawan yang mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan. Ia menyebut, selain relawan dari beberapa perguruan tinggi di Lampung, puluhan lainnya berasal dari luar provinsi.

“Ada yang dari Jawa Timur, Sulawesi, Padang, Jakarta, Aceh, Medan dan lainnya. Ini adalah salah satu pengamalan dari Tri Darma Perguruan tinggi yang kami adakan dengan mengendorse donatur atau sumbangan dari parapihak. Dan alhamdulillah kami dipercaya oleh PTPN VII sebagai kordinator bantuan dari beberapa BUMN untuk bencana tsunami Selat Sunda di Lampung. Oleh karena itu, mewakili seluruh mahasiswa dan masyarakat, saya menyampaikan terima kasih kepada PTPN VII,” kata dia.

 

Wilayah Paling Terdampak

Camat Rajabasa Saptudin menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada PTPN VII dan BUMN lain atas prakarsa membantu masyarakat pada pemulihan pascabencana. Ia menyebutkan, wilayah Kecamatan Rajabasa, adalah daerah yang paling terdampak dari bencana yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu.

“Untuk diketahui, Desa Kunjir ini adalah desa yang paling terdampak. Korban meninggal dari desa ini ada 38 orang. Sedangkan satu kecamatan Rajabasa ada 98 orang yang meninggal dari 116 korban dari seluruh wilayah Lampung Selatan. Jadi, bisa dibayangkan situasi kami pada saat itu,” kata camat bergelar sarjana sosial itu.

Saptudin menambahkan, selain korban jiwa, ada ratusan yang luka-luka dan menderita sakit. Lalu, dari kerugian material, di Kecamatan Rajabasa terdapat 400 lebih rumah rusak berat dan 600 lebih rumah rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada bangunan-bangunan fasilitas umum seperti sekolah, masjid dan musala, puskesmas, dermaga, dan lainnya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada PTPN VII dan BUMN, sebagai mana disampaikan oleh Pak Direktur Komersil tadi, bahwa tim dari PTPN VII sudah datang pada hari pertama bencana yang terjadi malam Minggu jam sembilan itu. Tanpa bantuan para relawan yang cepat dan tepat, entah apa yang terjadi hari-hari itu. Situasinya sangat mengerikan,” kata dia.

Kabag SDM PTPN VII Sultan Mare yang mendampingi tim PTPN VII menjelaskan, untuk pembangunan musala, pihaknya sangat terbantu oleh prakarsa relawan mahasiswa. Demikian juga dengan instalasi air bersih, pihaknya diberi masukan solusi untuk membangun bak penampungan dari mata air yang ada di Gunung Rajabasa, lalu disalurkan ke lokasi.

“Untuk air bersih, solusi mengalirkan dari mata air gunung itu sangat brilian. Dibanding membuat sumur bor, opsi ini jauh lebih menguntungkan secara jangka panjang. Airnya bagus, tidak membutuhkan listrik untuk memompa, dan mengalir 24 jam sehari, 365 hari setahun. Artinya ini air abadi, asli dari gunung. Debitnya juga sangat memadai. Tim kami sudah menyusuri ke sana,” kata dia. (HUMAS PTPN VII)

 

 


Kategori Kegiatan