Akuisisi Dongkrak Produksi CPO Dharma Satya Nusantara (DSNG)

Volume produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) PT Dharma Satya Nusantara Tbk. terdorong oleh dua anak usaha yang baru diakuisisi pada akhir 2018.

Head Corporate Communications Department Dharma Satya Nusantara Supriyadi Jamhir mengatakan segmen perkebunan sawit berkontribusi sekitar 80% terhadap pendapatan perseroan. Sisanya, sekitar 20% didapatkan dari segmen perkayuan.

 

Supriyadi mengatakan produksi CPO meningkat untuk mengkompensasi harga yang lesu.

“Harga memang turun tapi produksi CPO kami naik sepanjang semester I/2019 dibandingkan semester I/2018. Apalagi ada tambahan dari dua entitas baru,” katanya kepada Bisnis, Senin (9/9/2019).

 

Pada akhir 2018, emiten bersandi saham DSNG itu mengakuisisi dua perusahaan perkebunan sawit, yakni PT Bima Palma Nugraha (BPN) dan PT Bima Agri Sawit (BAS). Dari keduanya, total kebun yang sudah menghasilkan sekitar 96.118 hektare, dengan rata-rata usia tanaman 9,3 tahun.

Berdasarkan data perseroan, produksi CPO Dharma Satya Nusantara pada 6 bulan pertama tercatat sebesar 262.000 ton, naik 40 persen dibandingkan dengan semester I/2018. Adapun, volume penjualan CPO pada semester I/2019 meningkat 61 persen secara tahunan menjadi 301.000 ton.

Kenaikan tersebut disebabkan oleh adanya peningkatan produksi CPO menyusul makin luasnya area kebun yang menghasilkan.

Sampai dengan paruh pertama 2019, DSNG membukukan penjualan Rp2,6 triliun, naik 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp2,12 triliun. Menurut Supriyadi, kenaikan pendapatan dipicu oleh meningkatnya volume penjualan CPO.

Di sisi lain, rata-rata harga penjualan CPO turun 18% dari Rp7,8 juta per ton pada semester I/2018 menjadi Rp6,4 juta per ton pada semester I/2019.

Sementara itu, Direktur Utama Perseroan, Andrianto Oetomo mengatakan perseroan sedang melakukan program revitalisasi untuk dua kebun yang baru diakuisisi pada Desember 2018 yang lalu masih berlangsung dan belum memberikan hasil yang optimal.

“Kedua kebun baru tersebut telah menyumbang 13% dari penjualan dari segmen usaha kelapa sawit,” ungkapnya.

Sepanjang tahun berjalan 2019, saham DSNG terkoreksi 19,51%. Pada akhir perdagangan Senin (9/9/2019), DSNG ditutup di level Rp330 per saham.

 

Kategori Berita