Layar Terkembang di Sungai Han Seoul Korea Selatan

CEO Notes # 52 Masih di awal 2018 :

Assalamualaikum wr.wb,

 
Masih ingat tarian Gangnam style?

Gerakan dinamis yang diiringi musik yang bernada riang dengan judul Oppa Gangnam Style dan dinyanyikan oleh PSY atau Park Jae Sang itu sempat sangat populer di tahun-tahun 2012 – 2013. Hampir di setiap acara bersama perusahaan, kampung atau bahkan tingkat Kementerian selalu disuguhi tarian itu, seperti dulu pernah terjadi dengan tarian poco-poco yang sering dipolitisir sebagai langkah maju-mundur atau sekarang diganti dengan goyang Maumere. Ternyata setelah saya kemarin harus mondar-mandir dua kali Jakarta – Seoul dalam satu bulan, di tengah suhu terendah dalam musim dingin 30 tahun terakhir yang mencapai -20°C, baru saya tahu bahwa Gangnam mempunyai makna tersendiri. Kota Seoul di belah dua oleh sebuah Sungai besar yaitu sungai Han namanya. Di Selatan Sungai menjadi lambang daerah elite dan gedongan diberi nama Gangnam, sedangkan di utara sungai adalah lambang daerah yang lebih miskin yang bernama Gangbo, meskipun secara kasat mata susah juga untuk membedakannya saat ini. Mungkin seperti Menteng dan Depok. Sekarang sudah sama-sama padat dan ramai dengan pusat perbelanjaan dan pemukiman.

Kunjungan saya ke Korea kali kedua ini adalah dalam rangka mengikuti misi resmi dari Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian BUMN yang sedang bersemangat tinggi untuk menerapkan sistem Integrated Logistic System yang sangat sarat dengan penerapan teknologi digital. Sebagaimana sering kita lihat di tayangan TV bahwa Pemerintah sedang sangat getol untuk memperjuangkan agar harga barang-barang, khususnya kebutuhan pokok dan strategis seperti sembako, pupuk, semen dan BBM harus merata di seluruh tanah air mulai Sabang sampai Merauke. Tidak boleh ada lagi disparitas yang terlalu tinggi seperti harga semen yang di Jawa hanya Rp. 60 ribu per zak tapi di Papua bisa menjadi Rp. 2 juta per zak, atau minyak dari Rp. 8.000 menjadi Rp. 50.000 per liter. Saya bangga bahwa RNI sudah ikut terlibat dan berperan dalam program tersebut yaitu melalui PT Rajawali Nusindo dengan kegiatan Tol Lautnya di Natuna dan Sangihe Talaud sebagaimana pernah saya ceritakan dalam CEO Note yang lalu.

Integrated Logistic System baru dapat tercapai secara efektif dan efisien jika dilakukan secara terpadu melibatkan 3 komponen yaitu pengelolaan armada (fleet) angkutan, pergudangan (warehouse) dan teknologi informasi itu sendiri. Ukuran efektif adalah tidak terjadi disparitas harga dan kelangkaan barang, sedangkan efisien artinya biaya logistik atau distribusi bisa ditekan serendah mungkin dan barang dapat sampai ketangan konsumen secepat mungkin.

Mengapa BUMN sangat bersemangat dan berkepentingan untuk ikut berperan dalam program ini sampai harus jauh-jauh ke Korea untuk belajar mengenai hal ini? Kita bisa memaklumi karena produk-produk strategis seperti BBM, pupuk dan semen sebagian besar adalah produk BUMN. Demikian juga seperti armada angkutan, terutama kapal laut adalah milik BUMN. Pergudangan juga dimiliki oleh perusahaan BUMN, seperti BGR, Bulog dan gudang berpendingin pasti dimiliki juga oleh PT Perikanan Indonesia. Apalagi perangkat teknologi digital berjaringan luas yang bisa menjangkau seluruh Nusantara juga dikuasai pangsa pasarnya oleh grup BUMN. Telkom dan anak perusahaannya Telkomsel, baik dengan jaringan kabel maupun pulsa. PLN dan anak perusahaannya Icon Plus yang ternyata juga memiliki jaringan fibre optic yang ditumpangkan di jaringan listrik tegangan tinggi yang tentu saja menggurita sampai pelosok-pelosok termasuk yang susah dapat sinyal.

Dengan kekuatan sumberdaya BUMN seperti itu tentu sangat disayangkan apabila satu sama lain tidak disinergikan dalam satu sistem yang terintegrasi. Disini yang diperlukan bukan hanya kekuatan untuk berkoordinasi atau kecanggihan teknologi tetapi juga kecepatan berpacu dengan waktu karena pihak lain juga sudah melihat peluang bisnis ini. Pihak lain itu tidak punya barang, tidak punya armada, tidak punya warehouse, tidak punya jaringan komunikasi tapi punya inovasi dalam pemanfaatan teknologi digital. Siapa dia?…… GOJEK!

Melalui GOSEND, GOBOX, GOFOOD dan GO GO nya yang lain, perusahaan ini semakin melaju bukan hanya sebagai tukang ojek on line seperti yang kita kenal tapi sudah meraksasa menjadi perusahaan logistik dan distribusi online dan sebentar lagi akan menjadi raksasa keuangan karena melalui GOPAY akan mampu menghimpun dana masyarakat yang akan menggunakan jasanya tersebut. Dan pelayanannya itu dibandrol dengan harga yang jauuuuuh lebih murah sebagaimana pengalaman kita naik Gojek atau Gocar dibanding ojek atau taksi !

Tentunya pemegang saham melihat bahwa perusahaan BUMN kita memiliki semua potensi untuk menjadi raksasa di bidang logistik tersebut. Berapa banyak BUMN yang sekarang memiliki armada angkutan tapi dikelola sendiri-sendiri? Kalau semua armada yang dimiliki bisa dikelola bersama sehingga tidak ada armada yang berjalan dalam kondisi kosong tanpa muatan, berapa biaya yang bisa dihemat? Berapa banyak BUMN yang mempunyai gudang dalam keadaan separuh terisi atau bahkan kosong melompong, sementara BUMN yang lain harus menyewa di luar. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, semuanya bisa diintegrasikan. Dan masih banyak hal lagi yang bisa disinergikan sehingga semuanya bisa termanfaatkan dengan tingkat utilisasi yang tinggi.

Sebenarnya dari diskusi dan berbincang-bincang dengan teman-teman dari BUMN yang ikut dalam rombongan ke Korea saya mendapat kesan bahwa rata-rata BUMN yang besar seperti Pertamina, PGN, PLN, Telkom , PT Pos dll . sudah mengarah ke penggunaan digitalisasi. Divisi IT mereka bahkan sudah berdiri menjadi anak perusahaan sendiri seperti Icon Plus di PLN atau PosLog di PT Pos.

Dalam skala yang lebih kecil saya juga melihat bahwa PT Rajawali Nusindo juga berpeluang menjadi perusahaan distribusi dan logistik yang besar. Saya yakin dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi digital saat ini, utilitas dari armada dan sarana yang ada pasti akan dapat dioptimalkan sehingga pelayanan pelanggan akan meningkat karena biaya lebih murah dan lebih cepat. Oleh sebab itulah saya ajak Direksi Nusindo untuk ikut dalam delegasi studi banding ke Korea (selatan) ini agar wawasan kelogistikannya bertambah sehingga kelak akan dapat mengembangkan perusahaan lebih optimal.

Dari perusahaan logistik Samsung yang bernama Cello, kita dapat mengenal bagaimana kegiatan tingkat dunia end to end service yang dikemas dalam Integrated Global Logistic Service ini dijalankan dengan memanfaatkan teknologi digital. Logistic Service mereka saat ini terpakai 70% adalah untuk melayani produk Samsung sedangkan sisanya untuk non-Samsung. Dari operation room mereka di head office dapat dipantau semua pergerakan armada di seluruh dunia yang mereka layani, baik melalui vessel (kapal laut), truk maupun pesawat. Manakala ada indikasi penyimpangan (irregularities) karena salah route ataupun hijacking atau keterlambatan, sistem akan segara bekerja untuk meminta cabang terdekat mengambil tindakan yang diperlukan. Demikian pula early warning bila ada gangguan, misalnya volcano, gempa bumi ataupun kerusuhan, maka sistem juga akan bekerja mencari alternatif route atau cara lain, sehingga pelayanan kepada pelanggan tidak terganggu.

Sesuai peran sebagai Holding, maka menurut saya RNI harus banyak bergerak di bidang pengembangan usaha untuk lebih membesarkan perusahaan baik di tingkat nasional maupun global. Kegiatan operasional sudah saya percayakan kepada Direktur anak-anak perusahaan yang semua saya yakini sangat mumpuni di bidang masing-masing. Saya mengikuti jalannya operasional di anak perusahaan melalui Direktorat Pengendalian Usaha yang sekaligus juga melakukan analisa manjemen resiko atas kegiatan yang akan berdampak secara corporate (group). Pengawasan rutin juga saya percayakan lewat teman-teman Direksi dan Group Head yang saya sebar dan tempatkan sebagai Komisaris di anak-anak perusahaan. Saya harus lebih banyak melihat dan menengok kiri kanan untuk melihat peluang bisnis untuk membesarkan perusahaan, baik di dalam maupun di luar negeri, baik untuk bisnis eksisting maupun bisnis baru.
Properti, sebagaimana pernah saya sampaikan juga termasuk bisnis masa depan bagi RNI Group. Disamping asetnya yang tersebar di segala penjuru yang kebanyakan idle, saya juga melihat bahwa beberapa bisnis RNI sudah tidak akan mungkin dikembangkan dalam jangka panjang di pulau Jawa yang semakin padat. Disamping tekanan demografi, saya lihat alih fungsi lahan juga tidak terhindarkan. Dalam waktu yang bersamaan saya lakukan dua hal. Mencari alternatif lahan di luar Jawa untuk merelokasi bisnis di Jawa dan mencari investor untuk melakukan perubahan pemanfaatan lahan. Suatu langkah yang sangat awal, ibarat anak kecil baru turun ke tanah untuk belajar jalan. Kalau tidak dimulai, maka kita akan terninabobokkan terus dalam gendongan.

Oleh karena itu saya juga mengajak Pak Djoko Retnadi sebagai Direktur yang membawahi Manajemen Aset untuk memulai membuka hubungan dengan perusahaan-perusahaan besar yang berkemampuan dalam bidang asset development seperti Lotte, MDM, Hyundai, dll.

Dari perusahaan yang terkait dengan bisnis eksisting RNI seperti farmasi, alkes, trading dan alat suntik, saya berkesimpulan bahwa pada umumnya mereka sangat tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan BUMN. Kesimpulan saya yang lain adalah bahwa rata-rata mereka sudah mejadi pemain di tingkat global meskipun perusahaannya baru berdiri di akhir tahun 1990-an. Produk yang dihasilkan kebanyakan diekspor, bahkan mereka sudah bekerja sama dengan partnernya membangun industrinya di negara lain. Saya sangat berharap apabila kita bisa bekerjasama dengan mereka, maka kita juga akan terbawa menjadi perusahaan global atau paling tidak penjadi pemain di tingkat regional Asia.

Kalau direnungkan, sebenarnya Kemerdekaan Korea ini hanya berselisih dua hari dengan kemerdekaan kita, yaitu 15 Agustus 1945, tetapi dia bisa menjadi lebih maju padahal dia juga tidak memiliki sumberdaya alam. Ternyata kuncinya adalah di pembentukan karakter SDM nya. Meskipun Pemerintahnya berganti-ganti dalam waktu singkat namun pembangunannya terus berjalan. Karena itu pendidikan yang diterapkan di Korea memegang peran penting dalam membentuk karakter bangsanya. Mereka begitu bangganya menggunakan produk-produk nasionalnya. Sehingga jarang sekali kita melihat mobil buatan negara lain bersliweran di jalan-jalan raya Seoul hampir sebagian besar mobil produksi Korea yang memadati jalan-jalan di Seoul.

Di sisi lain, mereka juga tetap harus bersiaga perang dengan saudara dan tetangganya yaitu Korea Utara. Sedemikian siaganya sehingga bagi generasi muda Korea (Selatan), pada umur 20 tahun mereka harus mengikuti program wajib militer. Tanpa bisa ditawar. Tidak bisa diganti dengan uang atau diganti orang lain. Kalau ada yang mencoba menghindar, maka mereka akan menjadi warga yang tidak terhormat yang akan di “bully” di lingkungannya.

Sayangnya, meskipun saat ini sudah saya kembangkan layar di sungai Han yang membelah Seoul menjadi Gangnam region dan Gangbo Region, airnya masih beku karena suhu -20°C sehingga kapal belum bisa berlayar. Tunggu waktunya..

 
Selamat bekerja.

Wassalamualaikum wr.wb.

 
Seoul, 16 Januari 2018.

 
Didik Prasetyo

 


Kategori Artikel