RNI Siap Genjot Ekspor Sawit, Kulit Sampai Kondom

Wawancara Dirut Baru RNI
Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Sumber : www.detik.com. Sabtu, 03/03/2012
Jakarta - Salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), baru saja mendapat pemimpin baru. Kementerian BUMN baru saja menangkat Ismed Hasan Putro sebagai direktur utama.

Pria kelahiran Palembang ini dikenal dekat dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan karena latar belakang profesinya yang pernah menjadi wartawan sebelum terjun menjadi pengusaha.

Ia berniat mengembangkan RNI yang selama ini dinilai telat tumbuh menjadi perusahaan kelas atas dengan cara menggenjot kinerja dan ekspor. Beberapa produknya yang telah diekspor antara lain angat beragam, mulai dari obat-obatan, kulit, sawit hingga kondom. Negara tujuan ekspornya pun sangat banyak, antara lain Spanyol, Italia, Timur Tengah, China & Afrika

Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Ismed yang ditemui setelah pengangkatan, Jumat (2/3/2012) kemarin:

Bagaimana perasaannya saat ditujuk sebagai dirut RNI?
Seperti yang katakan tadi, ini musibah buat saya karena begitu Pak Dahlan (Iskan, Menteri BUMN) menyetujui saya jadi direksi. Berarti saya masuk ke kubangan masalah yang demikian rumit.

Karena ini perusahaan omzetnya Rp 5,8 triliun dan asetnya Rp 5,6 triliun. Tetapi keuntungannya tidak signifikan buat hemat saya. Oleh karena itu, saya punya target dalam 3-5 tahun ke depan, aset RNI harus meningkat sampai Rp 10 triliun, itu minimal.

Bahkan, kalau bisa kita capai dalam 5 tahun ke depan menjadi Rp 15 triliun. Yang kedua, saya juga berharap agar ke depan ini, RNI akan menjadi badan penyangga gula nasional. Dia akan menjadi barometer dan parameter, untuk penyediaan stok gula nasional kita.

Tetapi kami juga tidak akan mengbaikan, permintaan dari pak menteri (BUMN) untuk berkontribusi terkait dengan penyediaan kebutuhan sapi nasional, per tahun 250 ribu ekor. Kami akan berkontribusi minimal dalam proses saat ini, 5 ribu sampai 20 ribu akan kami lakukan.

Mulai senin besok, kami sudah bekerja. Kami sudah harus ke daerah, ke PTPN (PT Perkebunan Nusantara) VI untuk studi banding di situ. Demikian juga dengan persawahan, yang akan kita buka 10 ribu sampai 20 ribu itu. Kami akan melibatkan dan mengajak BUMD dan Pemda untuk terlibat bersama PT Nusindo, anak perusahaan RNI untuk membangun dan membuka area persawahan.

Kemudian, saya juga akan tetap meningkatkan kinerja dari pabrik gula kami dan juga pabrik CPO kami, serta perkebunan teh, karet, sawit, dan juga tebu harus kita tingkatkan semua. Kemudian Kita juga punya perusahan Nusindo itu perusahaan trader, itu perusahaan yang cukup besar di Indonesia dan kita punya cabang di 44 propinsi dan juga kabupaten.

Kita juga punya perusahaan obat, Phapros. Kita juga punya pabrik kulit yang di ekpor juga ke spanyol dan itali. Kita juga punya pabrik karung plastik untuk kebutuhan pupuk dan gula serta kebutuhan lainnya itu kita punya di Mojokerto. Kita juga punya pabrik kondom untuk di ekspor ke timur tengah, afrika dan china.

Sesungguhnya bisnis RNI sangat amat luar biasa tetapi memang mungkin ada semacam miss management, selama ini antara beban yang seharusnya dia kelola dengan ekspektasi bisnis yang mesti dia lakukan. Nah, sebagai wiraswasta, sebagai pengusaha, saya melihat ada celah yang banyak sekali untuk ditingkatkan. Kemampuan RNI untuk menjadi korporasi yang berkontribusi kuat kepada negara kita melalui pajak dan devidennya.

Ada rencana untuk RNI listing di BEI?
Saya ada 2 perusahaan yang sangat memungkinkan dan bahkan satu itu sudah Tbk tetapi non listed yaitu Phapros. Tetapi ke depannya, saya akan Tbk-an penuh, paling lambat 2014 itu harus di Tbk penuh.

Yang kedua, kita punya perkebunan sawit di Sumatera Selatan. Sekarang itu baru 36 ribu dan saya akan tingkatkan dalam 5 tahun ini menjadi 100 ribu hektar, itu akan saya listed-kan. Nama perusahaan sawitnya, itu Mitra Organ. Itu juga akan kita Tbk-an. Dua perusahaan ini akan kita dorong untuk bisa listed di BEI.

Terkait statement bapak yang menyebutkan bahwa di RNI itu terlalu banyak lemak, maksudnya apa pak? Dan bapak Sekretaris Kementerian BUMN mengatakan bahwa di RNI, birokrasinya terlalu ruwet. Bagaimana pandangan bapak?
Jadi memang dalam perspektif korporasi, yang terjadi di RNI itu adalah budaya institusi bukan budaya korporasi. Ini yang pelan-pelan yang harus kita ubah, agar dia menjadi budaya korporasi. Karena apa, bisnis RNI itu merupakan bisnis yang penuh dengan persaingan.

Gula penuh persaingan, CPO penuh persaingan, obat penuh persaingan, dan juga Nusindo sebagai trader juga penuh dengan persaingan. Kemudian juga, kulit penuh dengan persaingan, plastik apa lagi. Jadi maksudnya adalah banyak sekali anak perusahaan RNI yang dia harus efisien.

Kalau tidak dia akan kalah dalam berhadapan dengan pesaing dan dia akan semakin tergerus pasarnya oleh persaingan yang sedemikian ketat saat ini. Oleh karena itu tidak ada pilihan bagi RNI untuk segera melakukan trasformasi dan segera melakukan upaya untuk mempercepat pertumbuhan kinerjanya, agar pemegang saham melihat bahwa ini perusahaan tumbuh dengan baik kalau tidak maka dia akan di akuisisi oleh perusahaan-perusahaan yang lain.

Perkebunan dia akan diambil oleh perkebunan indonesia holding, farmasi dia akan diambil oleh Kimia Farma. Jadi akan banyak yang akan diambil, itu yang akan menjadi tantangan kita.

Dalam 100 hari ke depan ada target seperti pemerintahan sekarang?
Dalam 3 bulan ini saya akan membereskan lemak-lemak terlebih dahulu. Maka tadi saya katakan, tidak ada lagi fasilitas bagi para direktur terutama kendaraan akan saya hapuskan minimal dalam 1 tahun ini.

Tetapi nanti ketika keuntunganya sudah di atas Rp 300 miliar, baru akan saya berikan kembali. Kemudian, saya juga tidak penambahan karyawan untuk tahun ini. Kita akan fokus untuk memberdayakan karyawan yang ada.

Yang ketiga kita juga akan mulai mendata atau menginventarisir aset-aset untuk segera kita built up. Jadi misalkan kantor ini, seperti yang tadi saya katakan akan saya bangun tower. Masing-masing, 45 lantai, ada hotel, ada apartment, dan ada perkantoran. Letaknya di kator ini (maksudnya kantor pusat RNI) dan luas 1,7 hektar.

Kapan rencananya untuk membangun itu?
Saya berharap prosesnya dalam bulan maret ini sudah mulai proses untuk mencari partner di dalam kontruksinya. Jadi kita berharap, tahun 2013 akhir ini sudah jadi. Dan itu akan dikomersialiasi. Kita punya aset besar di Pancoran, di Gatot Subroto itu kita punya tanah 6,4 hektar. Itu juga akan kita bikin tower-tower.

Bapak kan dekat dengan Dahlan Iskan, itu ada hubungannya dengan jabatan bapak saat ini?
Begini, kedekatan saya dengan Pak Dahlan itu kedekatan historis saya sebagai wartawan. Sampai sekarang saya masih wartawan, jadi di mana pun Pak Dahlan selalu dekat dengan orang. Tetapi yang pasti proses profesionalisinalitas saya sebagai seorang profesional, reputasi dan integritas saya, saya rasa teman-teman wartawan banyak yang tahu.

Kalau proses seleksinya bagaimana?
Seleksinya itu kan di Kementrian BUMN, jadi itu diajukan oleh kedeputian kemudian diajukan kepada pak menteri, kemudian diproses melalui proses seleksi wawancara dan saya bisa masuk. Itu cuma seleksi wawancara saja. Tentu saja itu juga dilihat track record juga.

Selain bapak, ada yang ikut proses seleksi juga?
Ada, dari dalam saja banyak sekali, dari RNI itu ada 10. Ada yang dicalonkan oleh komisaris itu ada 10 orang, sebelumnya itu ada 40, dari 40 itu kemudian diseleksi tinggal 10. Dari 10 itu, nanti ada tambahan lagi kalau tidak salah menajdi 15 orang. Dari 15 orang tersebut kemudian diajukan ke kedeputian untuk diproses. Pada saat diproses itu, tinggal 4.

Siapa saja yang 4 orang itu?
Saya, Pak Dandossi Matram, Pak Bambang Adi Sukarelawan dan Pak Oki Zamhur Warnaen.

Terkait penampilan bapak ini hampir mirip dengan Pak Dahlan itu bagaimana?
Begini, sudah saya katakan tadi. Saya diangkat oleh beliau pada hari minggu dan saya berkomitmen untuk bekerja. Sebagai pekerja dan wartawan, anda juga begitu. Cuma, saya menghargai forum ini,saya tidak menggunakan celana jeans. Kalau budaya wartawan saya itu balik, saya bekerja seperti 20 tahun yang lalu. Kalau dulu kan saya sudah pensiun dan sekarang saya bekerja lagi. Ya, bekerja seperti kayak gini.

Apakah selama menjadi dirut bapak akan berpenampilan seperti ini?
Saya selama bekerja di sini akan berpenampilan seperti ini, pokoknya sampai berhenti di RNI saya akan berpenampilan seperti ini. Kecuali, kalau acara resmi lho. Saya tidak akan berubah, saya wartawan, saya akan bekerja seperti anda cuma saya tidak akan pakai jeans karena marah nanti karyawan saya.

(ang/ang)


Kategori Galery