Profil PT Rajawali Nusantara Indonesia

PT RNI sebagai induk perusahaan tidak menjalankan kegiatan usaha apapun. Semua kegiatan usaha dijalankan oleh anak dan cucu perusahaan serta unit usaha dalam bentuk kerjasama operasi, sedangkan PT RNI hanya menentukan kebijakan arah bisnis dan pengendalian keuangan. Adapun kegiatan usaha yang dijalankan oleh anak-anak perusahaan adalah sebagai berikut : Industri Agro Alat Kesehatan dan farmasi Perdagangan UmumProduk utama dari indutri tebu adalah gula. Dalam perekonomian Indonesia gula merupakan salah satu komoditas strategis, hal ini karena gula juga merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan sumber kalori yang relatif murah. Perkembangan kinerja industri gula nasional berbasis tebu terus menunjukkan peningkatan dibanding tahun - tahun sebelumnya. Kondisi ini seiring dengan permintaan gula dari dalam negeri yang cenderung meningkat dengan adanya kebutuhan gula nasional per tahun lebih dari 3 juta ton, sementara produksi gula nasional baru dikisaran 2 juta ton/tahun. Dengan demikian produksi gula masih belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, untuk itu untuk memenuhi kekurangan tersebut pemerintah tiap tahunnya membuka peluang untuk impor gula berkisar 1 juta ton/tahun bagi importir terdaftar (IT) yang ditunjuk.

Dilema industri gula nasional adalah masih rendahnya tingkat produksi, sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan gula nasional. Akibat kurangnya pasokan gula dalam negeri, mengakibatkan masuknya gula impor dalam jumlah yang besar. Kebijakan pemerintah dalam hal pemenuhan pergulaan tersebut dengan mengeluarkan Keputusan Menperindag No.527/MPP/Kep/9/2004 yang mewajibkan IT untuk menyangga harga di tingkat petani pada tingkat Rp.3.410/kg. Pemerintah menaikkan harga penyangga petani gula menjadi Rp.4.800/kg atau naik sekitar 26% dari tahun 2005. Ketentuan ini tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Perdagangan Nomor : 19/M-DAG/PER/4/2006 yang mulai berlaku tanggal 19 April 2006. Seiring dengan perkembangan kinerja industri gula berbasis tebu yang cenderung meningkat dalam menghasilkan produksi gula, maka dengan memberdayakan potensi tanaman tebu untuk mencapai swasembada gula pada tahun 2009 akan terpenuhi sehingga kebutuhan akan komoditas gula terpenuhi oleh produksi dalam negeri. Perkembangan produksi gula bagian pabrik PT RNI sampai dengan tahun 2006 cenderung menunjukkan peningkatan dan pada tahun 2006 dapat memberikan kontribusi gula bagian pabrik terhadap perkembangan gula nasional sebanyak 141.713 ton atau meningkat 8,20% dari tahun sebelumnya. Kontribusi produksi gula bagian pabrik PT RNI tersebut berasal dari anak perusahaan berbasis industri tebu dengan kepemilikan pabrik gula sebanyak 9 pabrik yang terdapat di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur (PT.PG. Rajawali I, PT.PG. Rajawali II,dan PT.Candi Baru . Kelapa Sawit dan Karet Industri kelapa sawit merupakan salah satu sektor unggulan Indonesia dan kontribusinya terhadap ekspor nasional cukup besar. Hal ini menunjukkan kelapa sawit merupakan produk perkebunan yang memiliki nilai tinggi dan industrinya termasuk padat karya. Dalam 6 (enam) tahun terakhir rata-rata share per tahun sebesar 6,17% dan setiap tahun cenderung mengalami peningkatan rata-rata sebesar 12,97%. Dengan adanya perkembangan industri kelapa sawit nasional yang terus menunjukkan peningkatan, dimana dalam kurun waktu 20 tahun terakhir (1985-2005), pertambahan kebun kelapa sawit mencapai 5 (lima) juta hektar atau meningkat 837%.Dari perkembangan tersebut, maka pemerintah berencana untuk membuka kebun kelapa sawit sepanjang 850 km di perbatasan Indonesia - Malaysia. Kondisi demikian menunjukkan bahwa prospek pertumbuhan industri kelapa sawit ini sangat cerah mengingat permintaannya yang terus meningkat, baik akibat dari pertambahan yang alami seperti kenaikan pertambahan penduduk yang otomastis akan meningkatkan permintaan minyak goreng, berkembangnya industri hilir, dan yang terakhir yang cukup mempengaruhi kenaikan permintaan CPO dunia secara signifikan yaitu pengembangan energi alternatif pengganti minyak bumi. Sementara produksi CPO (crude palm oil) nasional di tahun 2006 sebanyak 16 juta ton atau 25% diatas produksi tahun 2005 sebanyak 12,8 juta ton. PT RNI melalui anak perusahaannya yang berbasis indutri kelapa sawit yakni PT Perkebunan Mitra Ogan telah memberikan kontribusi peningkatan produksi industri kelapa sawit nasional khususnya produk CPO tahun 2006 sebanyak 73.633 ton atau meningkat sebesar 14,85% dari tahun sebelumnya. Teh Peranan komoditas teh dalam perekonomian di Indonesia cukup strategis. Indonesia juga sebagai salah satu negara eksportir teh curah yang masuk dalam 5 (lima) besar negara setelah Kenya, Sri Lanka, India, dan Cina. Secara keseluruhan pasar teh Indonesia selama ini terbagi dalam dua jenis teh yaitu teh hitam dan teh hijau. Teh hitam sebagian besar atau 70% di ekspor ke Rusia dan negara pecahannya, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun sejak pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan menyesuaikan harga BBM bagi industri dengan harga pasar dunia, mengakibatkan harga pokok produk teh Indonesia menjadi tinggi sehingga tidak mampu bersaing dengan teh produksi negara lain sehingga pasar ekspor teh mengalami penurunan. Hal tersebut dirasakan tidak hanya pada perkebunan teh negara (BUMN), namun juga dirasakan pada perkebunan teh Swasta dan Rakyat. Dalam situasi harga BBM yang terus naik, banyak perusahaan perkebunan teh yang mengganti bahan bakarnya yang semula menggunakan solar diganti dengan cangkang kelapa sawit. Kontribusi PT RNI dalam komoditas teh nasional melalui anak perusahaannya yang berbasis indutri teh yakni PT Mitra Kerinci dalam tahun 2006 telah memberikan kontribusi produksi teh sebanyak 3.536 ton atau meningkat sebesar 28,53% dari tahun sebelumnya yang terdiri dari 2 (dua) jenis teh yaitu black leaf tea sebanyak 1.826 ton dan green tea sebanyak 1.710 ton. Sementara itu untuk dapat menurunkan biaya produksi seiring dengan terus menaiknya harga BBM, PT Mitra Kerinci dalam proses produksi khususnya teh hitam sudah menggunakan bahan bakar pengganti dari cangkang kelapa sawit. 2. Bidang Non Agro Industri Obat-obatan dan Alat Kesehatan Obat sebagai salah satu unsur yang penting dalam upaya kesehatan, mulai dari upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, diagnosis, pengobatan dan pemulihan harus diusahakan agar selalu tersedia pada saat dibutuhkan. Industri farmasi dalam memproduksi obat dengan sendirinya tidak lepas dari aspek ekonomi dan teknologi. Tekanan aspek teknologi dan ekonomi tersebut semakin besar dengan adanya globalisasi ekonomi, namun tekanan ini pada dasarnya dapat diperkecil sedemikian rupa sehingga kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi sedangkan industri farmasi dapat berkembang secara wajar. Dalam tahun 2006 telah terjadi beberapa kali penurunan harga obat generik berlogo oleh Menteri Kesehatan, diantaranya dengan menurunkan harga 85 item Obat Generik Berlogo (OBG) antara 5%-30% yang diatur dengan SK Menkes No.487/Menkes/SK/VII/2006 tertanggal 17 Juli 2006 sebagai pengganti SK Menkes No.336/Menkes/SK/V/2006 tentang Harga Obat Generik yang mengatur harga 386 item obat generik yang ada saat ini. Untuk menekan angka belanja kesehatan di bidang obat, pemerintah sudah saatnya melakukan deregulasi harga obat. Industri farmasi asing (PMA) atau swasta nasional (PMDN) di Indonesia diduga meraup keuntungan sebelum maupun pasca krisis moneter di Indonesia. Jumlah penjualan obat secara nasional tahun ini mencapai 18 trilyun, sendangkan porsi obat generik masih sekitar 3,5 - 4 trilyun per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pangsa pasar obat generik di Indonesia masih dapat ditingkatkan. Peran PT RNI dalam pemenuhan akan obat-obatan nasional dengan melalui anak perusahaan farmasinya yakni PT Phapros,Tbk pada tahun 2006 seiring dengan meningkatnya kebutuhan obat yang cenderung meningkat menunjukkan adanya peningkatan produksi obat dengan berbagai jenis baik tablet, capsul, injeksi, salep, sirop, dan serbuk/campuran masing-masing sebesar 5,69%, 0,73%, 60,04%, 131,75%, 8,22% dan 142,67% dari tahun sebelumnya. Perdagangan Umum Dalam sektor perdagangan pemerintah Indonesia akan terus membangun dan mengembangkan hubungan dan kerjasama dengan negara-negara lain. Untuk itu akan diadakan pengembangan mekanisme peningkatan perdagangan antar negara dan promosi ekspor komoditi di negara-negara tersebut. Sedangkan arah kebijakan perdagangan dalam negeri tahun 2006, antara lain melakukan peningkatan efisiensi perdagangan dalam negeri dan memfasilitasi pengembangan prasarana distribusi tingkat regional dan prasarana subsistem distribusi lokal dan pengembangan perdagangan berjangka komoditi, pengembangan pasar lelang lokal komoditi agro dan implementasi pembiayaan alternatif melalui sistem resi gudang (WRS : warehouse receipt system) untuk mendukung revitalisasi pertanian dan perdagangan. Hal ini dapat dilihat dalam realisasi kinerja perdagangan Indonesia, khususnya kinerja ekspor mencapai rekor baru diatas US$100 milyar sehingga dalam beberapa tahun terakhir ekspor telah berperan mendorong peningkatan kapasitas, pertumbuhan ekomomi nasional dan penyerapan tenaga kerja. Namun faktor pendukung diantaranya kondisi infrastruktur jalan dan sarana pelabuhan yang tidak memadai masih menjadi hambatan bagi arus ekspor dan impor bahan baku sehingga menimbulkan biaya tinggi dan kondisi masih diperparah oleh kerusakan sejumlah prasarana dan sarana akibat bencana alam di berbagai wilayah Indonesia. PT RNI sebagai induk perusahaan tidak menjalankan kegiatan usaha apapun. Semua kegiatan usaha dijalankan oleh anak dan cucu perusahaan serta unit usaha dalam bentuk kerjasama operasi, sedangkan PT RNI hanya menentukan kebijakan arah bisnis dan pengendalian keuangan. Adapun kegiatan usaha yang dijalankan oleh anak-anak perusahaan adalah sebagai berikut : Industri Agro Alat Kesehatan dan farmasi Perdagangan Umum