Sejarah Perusahaan

PT Wijaya Karya (Persero), Tbk., (“Perseroan”) didirikan berdasarkan Undang-undang No.19 tahun 1960 jo Peraturan Pemerintah No.64 tahun 1961 tentang Pendirian Perusahaan Negara/ PN “Widjaja Karja”
tanggal 29 Maret 1961. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.64 ini pula, perusahaan bangunan bekas milik Belanda yang bernama Naamloze Vennootschap Technische Handel Maatschappij en Bouwbedrijf Vis en
Co. yang telah dikenakan nasionalisasi, dilebur ke dalam PN Widjaja Karja.



Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.40 tanggal 22 Juli 1971, PN. Widjaja Karja dinyatakan bubar dan dialihkan bentuknya menjadi Perusahaan Perseroan (PERSERO), sebagaimana dimaksud dalam pasal 2
ayat 3 Undang- undang No.9 Tahun 1969 (Lembaran Negara Republik Indonesia No.40 tahun 1969, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 2904).




Selanjutnya Perseroan ini dinamakan “PT Wijaya Karya”, berdasarkan Akta Perseroan Terbatas No.110 tanggal 20 Desember 1972 yang dibuat di hadapan Dian Paramita Tamzil, pada waktu itu pengganti dari D Muljadi, SH.,
Notaris di Jakarta, Akta Perubahan Naskah Pendirian Perseroan Terbatas “PT Wijaya Karya” No.106, tanggal17 April 1973 yang dibuat dihadapan Kartini Muljadi, SH., Notaris di Jakarta, keduanya telah disahkan oleh Menteri
Kehakiman Republik Indonesia dengan Keputusan No.Y.A.5/165/14 tanggal 8 Mei 1973, didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta dengan No.1723 dan No.1724 tanggal 16 Mei 1973, serta telah diumumkan dalam
Berita Negara Republik Indonesia No.76 tanggal 21 September 1973, Tambahan No.683.




Pada saat itu WIKA menggarap instalasi listrik dan pipa air. WIKA mulai menunjukkan perannya dalam proyek pembangunan Gelanggang Olah Raga Bung Karno yang dimulai pada awal tahun 60-an sebagai bagian
dalam persiapan penyelenggaraan Games of the New Emerging Forces (GANEFO) dan Asian Games ke-4 di Jakarta.




Selanjutnya WIKA mengembangkan diri ke dalam proyek kelistrikan dengan menjadi pengembang jaringan listrik tegangan rendah, menengah dan tinggi sebelum menjadi perusahaan kontraktor sipil dan
bangunan di tahun ‘70-an. Pada saat itu, tepatnya di tahun 1972 nama Perusahaan Negara Bangunan Widjaja Karja berubah menjadi PT Wijaya Karya atau disingkat WIKA. Kiprahnya mulai berkembang menjadi
kontraktor konstruksi dengan menangani proyek-proyek skala raksasa seperti proyek irigasi bendungan Jatiluhur dan proyek pemasangan jaringan listrik di Bendungan Asahan.




Pada tahun 1982 WIKA mendiversifikasi usahanya secara signifikan melalui pembentukan beberapa divisi baru yakni Divisi Sipil Umum, Divisi Bangunan Gedung, Divisi Sarana Papan, Divisi Produk Beton
dan Metal, Divisi Konstruksi Industri, Divisi Energy, dan Divisi Perdagangan. Beberapa proyek pemerintah yang ditangani saat itu adalah Gedung LIPI, Gedung Bukopin, dan Proyek Bangunan dan Irigasi. Dengan semakin
banyaknya proyek yang ditanganinya, semakin banyak anak perusahaan yang didirikan sehingga WIKA tumbuh menjadi perusahaan infrastruktur yang terintegrasi dan saling bersinergi.




Dalam bidang konstruksi sejak 1997 WIKA mulai mengembangkan diri dengan mendirikan beberapa anak perusahaan mandiri yang mengkhususkan diri dalam menciptakan produknya masing-masing yakni WIKA
Beton, WIKA Intrade, dan WIKA Realty. Keberhasilannya dalam mencapai pertumbuhan yang cukup pesat mendapat apresiasi yang tinggi dari publik. Dalam penawaran saham perdana (initial public offering/ IPO)
WIKA pada 27 Oktober 2007 di Bursa Efek Indonesia, WIKA berhasil melepas 28,46 persen sahamnya ke publik, sisanya masih dipegang pemerintah Republik Indonesia. Saham yang dilepas ke publik meningkat
menjadi 35 persen sejak 31 Desember 2012. Dari sejumlah saham yang dijual tersebut, karyawan WIKA juga berkesempatan memilikinya melalui Employee/ Management Stock Option Program (E/MSOP), dan
Employee Stock Allocation (ESA).




Selepas memperoleh dana dari IPO, WIKA semakin leluasa untuk tumbuh dan berkembang. Langkah-langkah antisipatif dan inovatif semakin mudah diwujudkan. Alhasil WIKA tetap berdiri kokoh tatkala
menghadapi berbagai krisis, baik krisis global maupun nasional. WIKA juga terus mengembangkan kemampuan Engineering, Procurement and Construction (EPC).



Pasarnya pun diperluas hingga ke mancanegara. WIKA tak pernah melewatkan kesempatan menggarap proyek-proyek menantang, baik dari swasta maupun menggarap proyek pemerintah yang pendanaan berasal
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Salah satunya adalah Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura yang
manfaatnya kian dirasakan oleh seluruh penduduk Jawa dan Madura.



Pesatnya perubahan global mendorong WIKA untuk mereposisi visi dan misinya sebagai perusahaan konstruksi nasional yang sudah merambah ke tingkat dunia. Pada tahun 2010 WIKA menyiapkan VISI 2020
yang salah satu tujuannya adalah menjadi salah satu perusahaan EPC dan investasi terintegrasi terbaik di Asia Tenggara, di mana WIKA memiliki SDM yang dapat diandalkan dan mampu bersaing dengan tenaga ahli dari
mancanegara. Dengan visi baru tersebut, WIKA memiliki harapan semangat dan strategi baru guna meningkatkan pertumbuhan perusahaan yang lebih optimal.



WIKA semakin memantapkan diri sebagai kontraktor proyek kelistrikan berskala nasional berkat keberhasilannya Pembangkit Listrik Tenaga Gas Borang berkapasitas 60MW, Pembangkit Listrik Tenaga Mesin
Gas Rengat 21MW, dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Ambon, 34MW yang dibangun di tahun 2012. Bidang usahanya semakin diperluas dengan mendirikan perusahaan di bidang infrastruktur setahun kemudian
yakni PT Prima Terminal Peti Kemas, sebuah perusahaan patungan bersama PT Pelindo I (Persero) dan PT Hutama Karya (Persero). Kemudian WIKA mengakuisisi saham PT Sarana Karya (Persero) (“SAKA”) yang sebelumnya
dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia, serta mendirikan usaha patungan PT WIKA Kobe dan PT WIKA Krakatau Beton melalui Entitas Anak WIKA Beton. Selanjutnya melakukan buyback saham sebanyak 6.018.500 saham dengan harga perolehan rata-rata
Rp1.706,77,-.



Pada tahun 2014 WIKA hadir dengan paradigma baru. WIKA mengklasifikasi ulang segmen bisnisnya menjadi 5 pilar yakni: Industri, Infrastruktur & Gedung, Energi & Industrial Plant , Realty & Property, dan Investasi. WIKA
berharap, melalui segmentasi demikian kinerja WIKA lebih solid dalam mewujudkan “operational excellence for best results” melalui peningkatan kualitas produk, anggaran yang lebih efsien serta waktu penyelesaian
proyek yang lebih cepat. Posisi WIKA pun semakin mantap sebagai salah satu pemain di industri kelistrikan dan migas berkat kontrak-kontrak baru di industri tersebut yang berhasil dimenangkannya.



Tahun 2015 menandai dimulainya babak baru WIKA dengan menggarap proyek-proyek infrastruktur berskala raksasa yang tak hanya menantang namun mempertaruhkan nama baik bangsa, yakni proyek MRT
(Mass Rapid Tranportation) Jurusan Kota-Lebak Bulus di Jakarta dan proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung. Di dalam proyek yang terakhir ini WIKA menjadi pemimpin di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PT PSBI),
perusahaan patungan empat BUMN Indonesia yang menggarap proyek tersebut. PT PSBI selanjutnya akan bekerja sama dengan BUMN China sekaligus menandai berdirinya perusahaan patungan PT Kereta Cepat
Indonesia China (KCIC).