Siaran Pers

BSI Bisa Bersaing Secara Global

BSI Bisa Bersaing Secara Global

Siaran Pers Nomor PR-9/S.MBU. /2/2021 Tentang BSI Bisa Bersaing Secara Global

JAKARTA, 1 Februari 2021 – Menteri BUMN, Erick Thohir menghadiri peresmian Holding Bank Syariah Indonesia (BSI) di Istana Negara, Jakarta, Senin (1/2). Peresmian Holding tersebut dilakukan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan dihadiri oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Agama Yaqut Cholik Qoumas, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso, Komisaris Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk Mulya E. Siregar, dan Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk., Hery Gunardi.

Presiden Joko Widodo dalam sambutannya mengatakan, kehadiran BSI sangat penting dalam perjalanan Indonesia merwujudkan cita-cita sebagai pusat gravitasi ekonomi Syariah dunia. Orang nomor satu Indonesia tersebut berpesan, agar BSI dapat menjadi bank Syariah yang universal, bersifat terbuka, inklusif, serta menjangkau masyarakat di seluruh segmen.

“Sebagai barometer perbankan syariah di Indonesia insya Allah nantinya regional dan dunia, saya harapkan Bank Syariah Indonesia harus jeli dan gesit menangkap peluang, harus mampu menciptakan tren-tren baru dalam perbankan syariah, dan bukan hanya mengikuti tren yang sudah ada,” ujar Presiden Joko Widodo.

Berdasarkan laporan The State of Global Islamic Economy Report 2019-2020, Indonesia menduduki peringkat ke-5 dari 73 negara sebagai ekonomi syariah terbesar di dunia. Sebuah langkah yang tepat yang dilakukan pemerintahan Jokowi dengan menghadirkan PT Bank Syariah Indonesia dari hasil merger Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah dan BRI Syariah.

Hasil merger 3 bank anak BUMN tersebut akan memiliki aset hingga mencapai Rp214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun. Angka dari jumlah aset dan modal inti tersebut akan menempatkan BSI ke dalam jajaran 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, dan ditargetkan menjadi 10 besar bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapilatisasi pasar dalam waktu 5 tahun ke depan (tahun 2025).

Hal ini sesuai dengan target Menteri BUMN yang menginginkan BSI masuk dalam Top 10 Besar Dunia yang dapat disejajarkan dengan bank Syariah terbesar di dunia, seperti Al-Rajgi hingga Albilad Bank.

“Kita ingin hasil merger ini bisa membuktikan negara dengan jumlah populasi muslim terbesar ini memiliki kondisi bank yang kuat secara fundamental dan Alhamdulillah ini berjalan dengan baik. Saya berharap Bank Sayariah Indonesia dapat energi baru bagi ekonomi Indonesia yang senantiasa menerapkan prinsip financial justice dan stability in investment yang telah terbukti berhasil membawa tiga bank Syariah yang bergabung menjadi Bank Syariah Indonesia ini mengarungi krisis pandemi Covid19, bahkan mampu menorehkan kinerja yang sangat positif dan membanggakan,” ujar Erick

Di dalam negeri, BSI masuk dalam peta persaingan utama perbankan di Indonesia. Saat ini, BSI memiliki 1.200 kantor cabang yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Deputi Bidang Keuangan dan Manajemen Risiko Kementerian BUMN, Nawal Nely mengatakan, sebanyak 20 ribu karyawan yang sudah bekerja akan terus ditingkatkan kapasitas dan kemampuannya dalam menjalankan perbankan Syariah sehingga dapat meningkatkan efisiensi bisnis bagi perusahaan.

“Dengan adanya merger ini, bukan hanya skala saja yang diharapkan bisa di-addressed, tetapi juga bisa meningkatkan economic of skill bagi karyawan yang itu penting sekali untuk sektor perbankan,” jelas Nawal.

Potensi keuangan syariah dan Bank Syariah Indonesia bisa lebih besar ke depan dengan dukungan penuh pemerintah untuk turut mengembangkan rantai pasok ekonomi halal. Sebuah terobosan pemerintahan Jokowi menjadi harapan baru bagi kita semua untuk membangkitkan perekonomian di masa pandemi ini.

Demikian siaran pers ini dibuat untuk disebarluaskan sebagaimana mestinya.