Biogas dan Pengelolaan Sumber Daya Air Jasa Tirta II

08 April 2021

CITARUM HARUM merupakan program nasional sesuai dengan regulasi berupa Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 Tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran Dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. Program tersebut bermula ketika seorang WNA bernama Gary Bencheghib melalui akun Facebook “Make A Change World”, mendokumentasikan perjalanannya bersama sang adik, Sam Bencheghib, menyusuri Sungai Citarum yang tercemar menggunakan kayak kreasinya sendiri pada Bulan Agustus tahun 2017.

Jasa Tirta II sebagai Badan Usaha Pengelolaan dan Pengusahaan Sumber Daya Air (SDA), selalu berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam pengelolaan Sungai Citarum yang berada di wilayah kerja perusahaan. Salah satu program yang dilaksanakan Jasa Tirta II adalah pencegahan pencemaran sungai dengan pemanfaatan biogas sebagai salah satu Energi Baru Terbarukan dan dengan melibatkan masyarakat.

Melibatkan masyarakat dengan meningkatkan kesejahteraan merupakan kunci suatu program dapat berjalan secara sustainable. Karakteristik masyarakat yang belum memiliki kesadaran terkait dengan pencegahan pencemaran menjadi sangat penting untuk digaris bawahi. Program pencegahan pencemaran yang berkaitan dengan masyarakat tidak akan berjalan jika masyarakat tidak mendapatkan keuntungan dari suatu program.

Pembuangan Limbah Ternak ke Citarum dan Anak Sungai Citarum menyebabkan terjadinya  pencemaran yang memerlukan penanganan secara komprehensif. Pemberdayaan Masyarakat (Community Empowerment) sebagai kunci agar kegiatan dapat berjalan secara Berkelanjutan (Sustainable) tersebut menjadikan Pilot Project Biogas yang dilaksanakan oleh Jasa Tirta II sangat menekankan community empowerment.

Harapannya adalah saat masyarakat sejahtera dengan program tersebut, maka keberlanjutan program akan dapat berjalan dengan sendirinya karena menguntungkan masyarakat. Inisiasi awal dilakukan pada akhir 2016 dengan survey penentuan lokasi, berawal dari keluhan PDAM Kabupaten dan Kota Bandung akibat limbah ternak yang berada di Sungai Cisangkuy sehingga Pilot Project dilaksanakan di Kampung Padamukti, Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung. 

Pembangunan biogas merupakan pendekatan teknik untuk mengurangi pencemaran, sedangkan community empowerment dilakukan dengan beberapa kegiatan seperti pelatihan produksi pupuk organik, pelatihan budidaya cacing sekaligus dengan pendampingannya. Selain itu, masalah yang banyak terjadi adalah tidak adanya pasar yang menyerap hasil sehingga Jasa Tirta II memutuskan untuk mendampingi masyarakat hingga proses sertifikasi dan membentuk pasar hasil produksi.

Tahun 2017 terbangun 10 unit biogas, 2 rumah budidaya cacing dan 2 rumah produksi pupuk. Tahun 2018 diselesaikan hingga terbangun total 35 unit biogas, 5 rumah budidaya cacing dan 4 rumah produksi kompos dan 10 unit bak resapan untuk menyaring kotoran agar dapat terendap dan dimanfaatkan melalui budidaya cacing dan produksi kompos. Analisis yang diperoleh dari hasil pelaksanaan Pilot Project tersebut adalah dari 171 ton/bulan kotoran ternak, 131 ton/bulan diserap oleh biogas, rumah budidaya cacing dan produksi pupuk, sisanya sebanyak 33 ton/bulan masuk ke bak serapan dan kembali dimanfaatkan oleh budidaya cacing dan produksi pupuk.

Sebagai stimulasi pasar, Jasa Tirta II berkomitmen menggunakan produk pupuk organik masyarakat tersebut untuk seluruh kegiatan konservasi tanam pohon yang dilakukan perusahaan. Puncaknya ketika pupuk tersebut diterima oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada acara peringatan Hari Air Dunia 2019 di Kementerian PUPR dan disebarkan untuk konservasi di seluruh Balai Besar Wilayah Sungai dan Balai Wilayah Sungai seluruh Indonesia.

Digester biogas menghasilkan gas yang dimanfaatkan masyarakat sebagai alternatif penggunaan gas elpiji dan untuk penerangan kandang ternak sebagai bahan bakar lampu biogas. Survei hasil pemanfaatan biogas tersebut diperoleh data masyarakat pengguna biogas tidak lagi membeli tabung elpiji. Rata-rata masyarakat menggunakan 3 tabung elpiji per bulan (tabung gas 3Kg), dengan harga pembelian di lokasi sebesar Rp. 30.000,- setiap kepala keluarga dapat menghemat penggunaaan elpiji sebesar Rp90.000,- setiap bulannya. 

Benefit yang didapatkan masyarakat tidak hanya dari penghematan elpiji, namun dari penghasilan tambahan dari hasil budidaya cacing dan produksi pupuk organik yang memperoleh sertifikat. Jasa Tirta II bekerja sama dengan universitas untuk uji laboratorium pupuk organik hingga memperoleh Sertifikasi Pupuk Organik oleh Indonesian Organic Farming Certification (INOFICE) tahun 2018. Pendapatan yang diperoleh dari produk sampingan biogas tersebut sebesar Rp438.000,- per kepala keluarga tiap bulan.

Implementasi kegiatan Pilot Project tersebut menjadikan program terus berjalan hingga saat ini, hal ini dikarenakan masyarakat memperoleh keuntungan dari pelaksanaan kegiatan baik dari penghematan elpiji maupun dari pendapatan sampingan dengan budidaya cacing dan produksi pupuk organik. Apresiasi terhadap suksesnya Pilot Project Biogas ini tidak hanya diperoleh dari dalam negeri dengan banyaknya kunjungan ke lokasi, apresiasi diperoleh hingga di tingkat Asia Tenggara. Tepatnya pada 4 Maret 2019 berlokasi di Bangkok-Thailand, Program Pilot Project Biogas Jasa Tirta II memperoleh penghargaan dalam ASEAN Energy Award kategori Thermal Off-grid Renewable Energy sebagai program Project River Conservation with Renewable Energy.

Pada tahun 2021, Jasa Tirta II melaksanakan project Biogas secara berkelanjutan dengan memprogramkan bantuan pembangunan 50 digester biogas di Desa Sukamanah, Margamukti, Warnasari dan Margamekar Kec. Pangalengan Kab. Bandung. Program Konservasi dan pemberdayaan masyarakar melalui program Biogas ini  selain memberikan dampak pada peningkatan kualitas air sungai Citarum (green environment), juga dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi para peternak.  Peternak mendapatkan manfaat dan keuntungan dari keberadaan biogas untuk akses energi yang digunakan sebagai green energy untuk bahan bakar masak dan penerangan serta pemanfaatan sisa kotoran hewan dari biogas (Bio slurry) menjadi green product untuk media budidaya cacing serta pupuk organik baik cair maupun padat.


Oleh: Mouli De Rizka Dewantoro, PErum Jasa Tirta II